Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Sport & Lifestyle
Government
Video
Indeks
About Us
Social Media

Astaga! Harga Emas Jeblok Parah, Saham Antam Makin Berdarah-Darah

Astaga! Harga Emas Jeblok Parah, Saham Antam Makin Berdarah-Darah Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga emas Antam ambruk bersamaan dengan jatuhnya harga emas global karena digempur sentimen vaksin Covid-19 milik Rusia. Dilansir dari logammulia.com, harga emas Antam jeblok hingga Rp30.000 dari Rp1.056.000 per gram menjadi Rp1.026.000 pada Rabu, 12 Agustus 2020. 

Itu merupakan diskon harga terbesar sepanjang masa kejayaan emas Antam pada masa pandemi Covid-19.  Bak terkena efek domino, harga saham PT Aneka Tambang Tbk (Antam) juga ikut berdarah-darah selama tiga hari berturut-turut. 

Baca Juga: Rusia Bikin Dunia Gonjang-Ganjing, Emas Dunia Runtuh!

Baca Juga: Ternyata Sentul City Pernah Lakukan Ini ke Ang Bintoro Cs

Dilansir dari RTI, saham Antam yang mengalami tren penguatan pada pekan lalu harus memerah sejak Senin, 10 Agustus 2020. Kala itu, saham Antam ditutup koreksi -1,79% ke level Rp825 per saham. Hari berikutnya, Selasa, 11 Agustus 2020, saham Antam juga ditutup merah -3,03% ke level Rp800 per saham. 

Baca Juga: Bombastis! Rabu 12 Agustus 2020: Harga Emas Antam Diskon Rp30.000

Kontraksi saham Antam pada Rabu, 12 Agustus 2020 semakin parah. Pada penutupan sesi I siang ini, saham Antam anjlok -5,62% ke level Rp755 per saham. Bahkan, saham Antam sempat anjlok ke level Rp750 per saham sebelum jeda siang tadi. Padahal, ketika emas berjaya, saham Antam mengalami penguatan hingga 14,39% dalam sebulan terakhir atau setara dengan 51,00% dalam tiga bulan terakhir.

Aktivitas perdagangan saham Antam terbilang ramai. Ada 11.219 kali transaksi yang memperdagangkan 121,51 juta saham Antam. Dalam setengah hari, saham Antam menghimpun nilai transaksi harian sebesar Rp92,20 miliar.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Lestari Ningsih
Editor: Lestari Ningsih

Bagikan Artikel: