Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menjadi Yang Terbaik di ASEAN

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menjadi Yang Terbaik di ASEAN Kredit Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementrian Keuangan, Abdurohman mengatakan perkembangan ekonomi Indonesia salah satu yang terbaik di Asia Tenggara.

"Perkembangan ekonomi domestik indonesia perkembanganya menjadi salah satu dari sedikit negara yang ekonominya sendiri sudah balik setelah pra pandemi jadi kira bandingkan dengan 2019, sedangkan malaysia dan philipina masih jauh dibawah level pra pandeminya," ujar Abdurohman dalam webinar Economic & Business Outlook 2022: Structural Reforms For Future Economics and Business Resilience, Kamis (20/1/2022).

Baca Juga: BI Perkirakan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5% pada 2022

Abdurohman mengatakan, jika dibandingkan dengan masa Asia Crisis Financial (AFC) pada 1998 pendapatan domestik bruto (PDB) Indonesia membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk kembali ke level awal.

"Kalau dilihat pola pemulihan dari AFC ini PDB Indonesia untuk kembali ke level sebelum pandemi butuh 20 kuartal artinya sekitar 5 tahun untuk kembali ke level pra pandeminya," ujarnya.

Berbeda dengan AFC, ia mengatakan krisis pandemi ini pola pemulihanya naik turun atau secara tidak langsung bergantung pada penanganan pandemi Covid-19.

"Di kuartal 3 kita sudah kembali ke level pra pandemi khususnya dari pengeluaran PDB pengeluaran di drive ekspor sementara dari sisi sektoral ini sektor-sektor besar sudah kembali ke level sebeluk pandemi seperti manufaktur, perdagangan, konstruktur, dan pertanian," jelasnya

 

Proyeksi 2022

Abdurohman mengatakan untuk prospek 2022 beberapa sektor unggulan indonesia baik dari sisi konsumsi dan produksi mengalami penguatan.

Selain dua sektor tersebut dari survei yang ada juga menunjukan consumer confidence indeks menguat, indeks penjualan retail, kemudian mandiri spending indeks mengalami penguatan.

Sementara itu dari sisi produksinya juga mengalami penguatan seperti yang terjadi di PMI Manufaktur dalam dalam beberapa bulan terakhir dan bertahan di zona ekspansif.

"Ekspor kalau kita lihat sendiri selalu dalam beberapa waktu terakhir mencatatkan rekor termasuk neraca perdagangan memperkuat fondasi ekonomi kita juga konsumsi listrik terutama industri dan bisnis yang tumbuh kuat di bulan desember kemarin, ini saya kira kondisi ekonomi kita ontrack dalam pemulihan," jelasnya.

Abdurohman mengatakan optimisme tersebut juga didasarkan oleh capaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negaa (APBN) 2021, dimana sisi pendapatan meningkat cukup tajam di 2021 14 persen diatas target.

Pendapatan tersebut disokong oleh penerimaan pajak yang melampaui target pertama kali sejak 12 tahun.

"Karena untuk pertama kali dalam 12 tahun penerimaan pajak kita melampaui targetnya kalau penerimaan kepabeanan dan PNBP ini faktornya cukup kuat dari kenaikan harga komoditas, kemudian negara juga melampuai targetnya pada dasarnta untuk mendorong pemulihan ekonomi kita," ujarnya.

Sementara itu, untuk defisit anggaran hanya 4,65 persen atau jauh lebih rendah dari target sebesar 5,70 persen. Sedangkan untuk asumsi makro dalam APBN 2022 juga masih terbilang dapat dicapai atau tidak terlalu tinggi.

"Pertumbuhan ekonomi masih konservatif di 5,2 persen, jadi saya kira untuk 2022 bisa optimis tercapai bahkan diatas 5,2 kemudian inflasi 3 persen. Untuk harga minyak juga masih cukup moderat di 53 dollar AS per barel," paparnya.

Penulis: Djati Waluyo
Editor: Alfi Dinilhaq

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan