Irak Diguncang Bom, Sepeda Motor Meledakkan Diri di Tengah Kota Tewaskan 4 Orang

Irak Diguncang Bom, Sepeda Motor Meledakkan Diri di Tengah Kota Tewaskan 4 Orang Kredit Foto: AP Photo/Nabil al-Jurani

Sebuah sepeda motor yang dilengkapi dengan bahan peledak meledak di pusat kota Basra, Irak selatan pada Selasa (7/12/2021). Dari insiden itu, menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai empat lainnya, menurut pasukan keamanan Irak.

Associated Press, Rabu (8/12/2021) melaporkan, ledakan itu membakar dua kendaraan lain dan mengirimkan asap hitam ke langit. Gubernur Basra, Asaad al-Idani, mengatakan kepada wartawan di tempat kejadian bahwa sebuah sepeda motor meledak, dengan cepat menyalahkan militan dari kelompok Negara Islam.

Baca Juga: Sekjen PBB Desak Semua Pihak di Irak Menahan Diri Usai Pemimpinnya Nyaris Mati

Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan pagi hari di dekat sebuah rumah sakit besar, yang mengguncang penduduk kota itu.

Sel Media Keamanan Irak, sebuah outlet yang berafiliasi dengan pasukan keamanan negara itu, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa empat orang tewas dan empat terluka akibat kebakaran di dua mobil yang berada di dekat sepeda motor.

Dikatakan tim forensik berada di lokasi ledakan dan rincian lebih lanjut akan dirilis tentang sifat ledakan, setelah penyelidikan selesai.

Ledakan jarang terjadi di wilayah Basra yang kaya minyak dan didominasi Syiah dalam beberapa tahun terakhir, terutama sejak kekalahan kelompok militan ISIS pada 2017.

“Daesh sedang mencoba untuk mengacaukan keamanan di Basra, tetapi itu tidak akan berhasil,” kata Al-Idani setelah memeriksa kerusakan akibat ledakan itu, menggunakan akronim bahasa Arab untuk kelompok Negara Islam.

Dibantu oleh koalisi pimpinan AS dan kelompok bersenjata yang didukung Iran, Irak mendeklarasikan kemenangan atas ISIS pada akhir 2017. Kelompok itu telah merebut dua pertiga negara itu pada 2014, mendeklarasikan kekhalifahan Islam gadungan.

Namun, IS terus melakukan serangan sporadis, seringkali menargetkan pasukan keamanan, melalui sel-sel tidur yang dikelolanya, terutama di utara.

Ada juga peningkatan ketidakstabilan politik di Irak setelah pemilihan parlemen 10 Oktober yang melihat ulama Syiah Muqtada al-Sadr muncul sebagai pemenang terbesar. Faksi bersenjata Syiah yang setia kepada Iran yang kehilangan sekitar dua pertiga kursi parlemen mereka telah menolak hasil pemilihan, menuduh penipuan.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini