Dua Tantangan Utama Profesi Akuntan Masa Kini, Digitalisasi dan Mitigasi Dampak Pandemi Covid-19

Dua Tantangan Utama Profesi Akuntan Masa Kini, Digitalisasi dan Mitigasi Dampak Pandemi Covid-19 Kredit Foto: Ikatan Akuntan Indonesia

Dua tantangan utama yang dihadapi profesi akuntan dewasa ini adalah, pertama, adanya transformasi teknologi yang menghadirkan beragam otomasi, kecerdasan buatan, dan berbagai perkembangan lain. Tantangan kedua berasal dari situasi pandemi Covid-19 yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan entitas secara umum.

Catatan itu disampaikan Wakil Presiden RI, Prof. K.H. Ma’ruf Amin, ketika menjadi pembicara kunci dalam acara peringatan Hari Ulang Tahun ke-64 Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), yang dilaksanakan secara virtual pada 7 dan 8 Desember 2021. Peringatan Asta Windu IAI ini mengambil tema “Bekerja Nyata Demi Ketangguhan Bangsa”, dan dihadiri oleh perwakilan kementerian/lembaga, pemerintahan kabupaten/kota, para tokoh dan sesepuh akuntan, hingga stakeholders IAI dan berbagai wilayah di Indonesia. Acaranya dirangkai dengan penyelenggaraan Konvensi Nasional Akuntansi IX bertema “Facing the Certainty of Uncertainty” dan Regional Public Sector Conference V dengan tema “Accountability and Transparency of Public Sector Financial Reporting During Covid-19 Pandemic”.

Wapres Prof. Ma’ruf Amin mengatakan, peran akuntan sangat penting dalam kondisi ini, mulai dari perencanaan, pengelolaan, pengawasan, hingga pengendalian keuangan negara, yang pada ujungnya adalah untuk membangun kepercayaan publik. Namun di sisi lain, profesi akuntan tidak luput dari perubahan yang semakin cepat, kompleks dan dipenuhi ketidakpastian yang semakin tinggi.

Wapres mengatakan, akuntan perlu merangkul aspek digital untuk meningkatkan efisiensi kerja dan memudahkan pengambilan keputusan serta dapat meningkatkan akurasi. Selain itu, penanganan pandemi selama hampir dua tahun telah meningkatkan kebutuhan anggaran, salah satunya untuk membiayai strategi ekspansi pemerintah merespon dampak pandemi. Akibatnya realisasi belanja pemerintah pada tahun 2020 mencapai 2500 triliun, naik 12,2% dari realisasi tahun 2019.

Wapres mengharapkan agar akuntan dapat terus adaptif dan kritis merespon tantangan zaman. Ia menilai akuntan selama ini sudah terbiasa dengan prosedur dan kriteria kerja yang ketat. Ia juga meminta agar akuntan dalam bekerja tetap berorientasi pada hasil, tapi tidak melupakan teta kelola dan akuntabilitas. “Meskipun tugas akuntan sangat berat, tapi tetap harus dijalankan,” ujar Wapres di hadapan lebih dari 400 peserta webinar HUT IAI.

Baca Juga: Sri Mulyani Menghimbau Penguatan Peran Akuntan dalam Recovery Pasca Covid-19.

Pada kesempatan itu, Wapres menyatakan jika aktivitas ekonomi masyarakat dan industri terus membaik dan Indonesia optimis menyongsong tahun 2022. “Namun kita harus tetap waspada karena tingkat ketidakpastian global masih cukup tinggi,” Wapres mengingatkan. “Kita harus membangun kemandirian bangsa, seraya bersiap memasuki masa pasca pandemi Indonesia yang mandiri dan tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan sosial, budaya, perubahan iklim,” ia menambahkan.

Wapres juga mengharapkan peran aktif akuntan dalam kepemimpinan global, salah satunya terkait Presidensi G20 Indonesia tahun 2022. Menurutnya, akuntan Indonesia dapat berperan nyata dalam membangun kemandirian bangsa, diantaranya dengan membangun standar kerja yang adaptif dan relevan dengan zaman, dan meningkatkan penguasaan atas teknologi digital.

“Penguasaan teknologi digital adalah prasyarat. Profesionalisme akuntan teruji ketika menghadapi tantangan dan realitas permasalahan di lapangan. Akuntan masa kini harus berorientasi pada outcome dan aspek tata kelola,” ujar Wapres.

Peran lain yang bisa dioptimalkan melalui peningkatan kualitas SDM, baik dari sisi kompetensi, pengalaman, profesionalisme, terlebih integritas, sehingga kepercayaan publik kepada profesi akuntan tetap solid. “IAI harus beraktivitas lebih konkrit dan menyentuh publik secara langsung melalui pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dan pengembangan UMKM,” Wapres memberi penekanan di hadapan para peserta webinar. “Gagasan inovatif yang muncul dapat menjadi solusi konkrit bagi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah dan pengembangan UMKM,” pungkasnya.

Senada dengan Wapres, Gubernur Bank Indonesia yang juga merupakan Anggota Dewan Penasihat IAI, Perry Warjiyo, mengatakan bahwa perkembangan ekonomi digital Indonesia semakin pesat pasca Covid-19. Karena itu, ia mendukung penguatan peran IAI karena semua transaksi ekonomi keuangan harus bisa dipastikan sesuai prosedur, prinsip, dan standar yang berlaku.

Perkembangan digital ini merupakan salah satu aspek yang disampaikan Perry terkait dengan inklusivitas ekonomi Indonesia yang dilakukan melalui layanan digital dan syariah. Ekonomi keuangan digital berkembang pesat sejalan dengan perkembangan ekonomi global dan preferensi masyarakat untuk bertransaksi secara digital.

“Faktanya, nilai transaksi e-commerce mencapai Rp403 Triliun pada tahun 2021 dan diproyeksikan terus berkembang menjadi Rp530 Triliun pada tahun 2022. Transaksi perbankan digital juga meningkat dari Rp40 ribu Triliun tahun 2021 menjadi Rp48 ribu Triliun tahun 2022. Sementara penggunaan e-money pada tahun 2021 mencapai Rp289 Triliun, diperkirakan naik menjadi Rp337 Triliun pada 2022.

Dukungan profesi akuntan sangat diharapkan dalam menumbuhkan literasi digital. Pada kesempatan itu, Perry menyampaikan apresiasi atas komitmen Ketua DPN IAI, Prof. Mardiasmo dalam membangun digitalisiasi di internal IAI, sehingga organisasi profesi terbesar di Indonesia ini menjadi semakin dinamis dan mampu beradaptasi menjawab tantangan digital di organisasi.

Selanjutnya
Halaman

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini