Dalam Sarasehan Kehumasan MPR, Mahasiswa Untirta Antusias Ikut Diskusi Paham Kebangsaan

Dalam Sarasehan Kehumasan MPR, Mahasiswa Untirta Antusias Ikut Diskusi Paham Kebangsaan Kredit Foto: Majelis Permusyawaratan Rakyat

Saat menjadi narasumber dalam diskusi dengan tema ‘Bangkitkan Semangat Nasionalisme Bagi Generasi Muda’, Sarasehan Kehumasan MPR, ‘Menyapa Sahabat Kebangsaan’ yang digelar di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Kota Serang, Banten, pada Sabtu 4 Desember 2021, Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antar Lembaga Setjen MPR, Budi Muliawan SH., MH., menguraikan dinamika pergerakan nasionalisme di tanah air.

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Kepala Program Pendidikan FH Untirta, Nurikah SH., NH., Ketua Pelaksana Acara Lili Suriyanti SH., MH., Kepala Bidang Hukum Tata Negara FH Untirta, Lia Riesta Dewi SH., MH., serta civitas akademika Untirta, Budi Muliawan menuturkan paham kebangsaan atau nasionalisme muncul di tanah air pada tahun 1908. “Dengan berdirinya pergerakan Budi Utomo,” ungkapnya. Dikatakan, organisasi ini didirikan oleh mahasiswa yang menempuh pendidikan kedokteran di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA). Tokoh-tokoh organisasi ini adalah Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soeraji. “Hari berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingai sebagai Hari Kebangkitan Nasional,” ujarnya. Disampaikan bahwa organisasi ini memiliki tujuan Indonesia merdeka.

Baca Juga: Dukung Jadwal dari KPU, Wakil Ketua MPR: Mari Bijak Menentukan Jadwal Pemilu!

Beberapa tahun sebelumnya, menurut alumni Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya, Kota Malang, Jawa Timur, sudah ada organisasi yang melawan kebijakan pemerintah kolonialisme Belanda yang tidak adil. “Organisasi itu bernama Sarekat Dagang Islam,” tuturnya. Organisasi ini lahir di Solo, 16 Oktober 1905. Organisasi ini menurut Budi Muliawan sebagai organisasi yang pertama lahir di masa pergerakan. Organisasi yang dibentuk oleh Hadji Samanhoedi itu merupakan perkumpulan pedagang Islam yang menentang politik Belanda yang telah memberi keleluasaan masuknya pedagang asing untuk menguasai sektor perekonomian pada masa itu.

Dalam keberlanjutan, organisasi ini berubah menjadi Sarikat Islam, “dengan tokoh penggerak yang sangat popular, yakni Hadji Oemar Said Tjokroaminoto,” ujar Budi Muliawan. Tjokroaminoto ini selanjutnya menjadi Bapak Bangsa.

Dinamika pergerakan kebangsaan di tanah air menurut Budi Muliawan selanjutnya semakin membesar dengan adanya Kongres II Pemuda yang terjadi pada Tahun 1928 di mana dalam kongres yang diikuti oleh berbagai mahasiswa dengan berbagai latar bekalangan itu menghasilkan sumpah yang sangat monumental dengan sebutan Sumpah Pemuda. “Kemudian berlanjut pada gerakan pemuda mahasiswa pada tahun 1945, 1966, dan 1998,” ungkapnya. “Apa yang dilakukan oleh mahasiswa mempunyai dampak yang besar pada bangsa dan negara,” tambahnya.

Menurut alumni Program Magister Ilmu Hukum Universitas Indonesia itu, nasionalisme sifatnya tidak mononton. Ia bisa dipengaruhi oleh banyak faktor. Disebut revolusi industri yang terjadi pada tahun 1760-1850 berpengaruh besar terhadap perkembangan paham ini. Revolusi industri menyebabkan terjadi perubahan besar-besaran pada berbagai bidang dengan dampak besar pada perubahan tatanan dunia. “Membawa perubahan pada berbagai aspek kehidupan manusia seperti pada bidang sosial, budaya, dan ekonomi,” tuturnya. Perubahan ini berawal dari Inggris hingga menyebar ke seluruh benua dan negara lainnya.

Dengan fakta di atas, Budi Muliawan menyebut nasionalisme bisa menyesuaikan dengan jaman dan keadaan. Menolong orang, peduli sesama, dan gotong royong, juga merupakan semangat nasionalisme. “Membantu orang lain saat pandemi Covid-19 juga merupakan bentuk nasionalisme,” paparnya.

Tak hanya itu yang dicontohkan. Diceritakan saat ini di media sosial banyak berita bohong atau hoaks meski berita yang sesuai dengan fakta juga melimpah. Berita bohong yang ada diakui menimbulkan benih-benih permusuhan dan perpecahan. “Nah melawan berita bohong juga salah satu bentuk nasionalisme,” tegasnya. “Nasionalisme seperti ini bisa kita lakukan saat ini,” tambahnya.

Menurut Budi Muliawan paling penting dalam paham ini adalah bagaimana nilai-nilai yang ada tidak hanya diucapkan namun juga diimplementasikan. Namun diingatkan nasionalisme yang diinginkan adalah nasionalisme yang berdasarkan pada nilai-nilai yang disepakati oleh para pendiri bangsa, yang termuat dalam Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945. “Bukan nasionalisme sempit,” tegasnya. Dikatakan bangsa ini harus bersyukur karena memiliki Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kepala Bidang Hukum Tata Negara FH Untirta, Lia Riesta Dewi SH., MH., yang dalam kesempatan tersebut juga menjadi pembicara menambahkan, nasionalisme tak bisa diukur, dilihat, dan diraba, “namun bisa dirasakan,” ujarnya. Diungkapkan bila saat menyanyikan lagu Indonesia Raya maka bila ada rasa nasionalisme maka seseorang akan bergetar. “Demikian juga bila ada bendera merah putih maka hatinya juga akan bergetar,” tambahnya.

Sebelumnya Lili Suriyanti dalam sambutan mengatakan pihak kampus memgucapkan terima kasih atas kehadiran tim dari Setjen MPR. “Kegiatan ini untuk mensosialisasikan apa saja tentang MPR”, tuturnya. Disampaikan bahwa hadir dalam kegiatan tersebut ada 50 mahasiswa. “Yang mengikuti kegiatan secara ‘daring’ juga tak kalah banyaknya,” ungkapnya. “Selain mahasiswa, ada juga dosen yang antusias pada kegiatan ini”, tambahnya. Dirinya berharap kegiatan tersebut dapat menambah wawasan keilmuan bagi mahasiswa.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Nurikah. Dipaparkan bahwa kedatangan MPR ke kampus ini merupakan yang kedua kalinya. “Berbagai kegiatan telah dilakukan oleh MPR di Untirta,” ujarnya. Ditegaskan agar setiap kegiatan MPR yang hadir diharap dapat dimanfaatkan oleh civitas akademika untuk menambah ilmu dan pengalaman. “Kegiatan ini merupakan sarana untuk melakukan asah intelektual,” ucapnya.

Dikatakan, MPR tidak hanya sebagai lembaga negara dalam bidang legislatif namun lembaga ini juga lembaga yang membangun karakter bangsa. Disampaikan kepada peserta dengan mengacu pada tema, bahwa mahasiswa jangan hanya mengajar prestasi namun harus juga mengedepankan atau memberikan kontribusi pada bangsa dan negara.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini