KKP Gandeng Ispikani Matangkan Konsep Perikanan Terukur

KKP Gandeng Ispikani Matangkan Konsep Perikanan Terukur Kredit Foto:

Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (Ispikani) diundang Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Acara yang digelar di Gedung Mina Bahari 2 lantai 12 itu digelar khusus untuk membahas kebijakan pemerintah dalam pengelolaan penangkapan perikanan terukur. 

Diketahui pertemuan tersebut tidak lanjut dari rekomendasi Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Ispikani yang digelar di Hotel Salak, Bogor (26-27) November. Forum tersebut menghasilkan 10 rumusan strategis. Salah satunya soal perikanan terukur. 

Dalam pertemuan tersebut, Dirjen Perikanan Tangkap KKP Ahmad Zaini mengatakan, dirinya sepakat dengan kehati-hatian dalam pelaksanaan konsep perikanan terukur.  

"Ini harus dilakukan dengan hati-hati, memberdayakan nelayan plus mendatangkan investasi. Karena semuanya harus terukur termasuk dalam pemanfaatan sumberdaya dan pendataan alat tangkap apa yang digunakan," ujar Zaini dalam keterangan tertulisnya, Senin (6/12). 

Menurutnya, ada dua hal penting dalam perikanan terukur, yakni Pengendalian berdasarkan input. Konsepnya adalah pengendalian dilakukan dengan perizinan, tanpa memberfikan kuota per kapal. Hal ini berdampak terjadinya Race to fish dimana pelaku usaha berlomba menangkap ikan sebanyak-banyaknya. 

"Dalam metode ini juga terkait dengan Pungutan Negara Bukan Pajak (PNBP), dimana PNBP pra produksi (berdasarkan jenis kapal, ukuran kapal) dengan tidak menghitung jumlah tangkapan yang didaratkan sehingga tidak ada fairness, bisa membayar PNBP lebih (rugi), membayar PNBP kurang (untung)," jelasnya.

Kedua, lanjutnya, pengendalian berdasarkan output. Konsepnya adalah pengendalian dilakukan dengan perizinan, dengan mempertimbangkan kuota. Hasil tangkapan pelaku usaha berdasarkan kuota (catch limit). PNBP pasca produksi berdasarkan jumlah tangkapan yang didaratkan. 

"Jadi pemasukan negara dapat diproyeksikan berdasarkan nilai alokasi sumber daya ikan," ujarnya.

Zaini Juga menegaskan, kebijakan penangkapan terukur di Indonesia dibangun dengan pertimbangan ekologi dan ekonomi. Karena itu rencana implementasi pengaturan berdasarkan kuota tersebut diperuntukan untuk kepentingan tiga pelaku usaha perikanan, yaitu pertama kuota untuk komersial, kedua Kuota untuk Nelayan tradisional dan terakhir kuota non komersial untuk peneliti, sport fishing. 

"Sedangkan Penerapan kuota di zona penangkapan perikanan terukur, digolongkan dalam 3 zona, yaitu Zona berdasakan aturan Kuota, Zona dengan aturan Non Kuota dan Zona Terbatas," ujarnya.

Karena itu, Zaini menyarankan kepada nelayan untuk membentuk koperasi guna bisa mendapatkan kuotan tangkapan. "Kami juga akan selalu meminta dukungan dan rekomendasi pemikiran Ispikani untuk menyempurnakan konsep penangkapan terukur," ujarnya. 

Merespons hal itu, Ketua Dewan Profesi dan Dewan Pakar Prof. Lucky Adrianto, mengatakan, Ispikani berharap apa yang konsep perikanan terukur bisa komitemen memegang dua prinsip utama, yakni proses terukur dan hasil terukur. Karena akan ada banyak hal yang harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Salah satunya dalam membagi kuota penangkapan. 

"Ini harus sangat diperhatikan. Sangat bagus secara teori, namun prakteknya akan sangat sulit diimplementasikan, sehingga harus sangat hati-hati sekali," tegasnya. 

Menyambung hal tersebut, anggota Dewan Profesi dan pakar Prof. Ari Purbayanto menyarankan bahwa pembagian alat tangkap dan sumber daya ikan yang ada harus spesifik. Bahkan hal ini juga menuia pertanyaan dan menjadi pertimbangan. 

"Lalu bagaimana kontrol atau pengawasannya. Agar memastikan para nelayan menggunakan alat tangkap yang telah ditetapkan sesuai kuoatanya?" ujar Prof. Ari. 

Sementar itu, Ketua I Ispikani Ahmad Jauzi yang hadir mewakil Ketua Umum Ispikani Ichsan Firdaus mengatakan, Ispikani hadir untuk menyelaraskan arah kebijakan pemerintah dan keinginan pelaku usaha sehingga semua kebijakan pemerintah dapat operasional dilapangan dan diterima oleh pelaku usaha bisnis perikanan dari hulu hingga hilir. 

"Salah satunya adalah soal konsep perikanan terukur yang menjadi sorotan pada Rakernis Ispikani di Bogor," ujarnya.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini