Biden Jumpa Putin, Amerika Khawatirkan Manuver Militer Rusia di Ukraina

Biden Jumpa Putin, Amerika Khawatirkan Manuver Militer Rusia di Ukraina Kredit Foto: Japan Times/APF-JIJI

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan Presiden Rusia Vladimir Putin akan menggelar sambungan video pada Selasa (7/12). Kedua pemimpin itu dijadwalkan akan membahas situasi yang menegangkan di Ukraina.

"Biden akan menekankan kekhawatiran AS mengenai aktivitas militer Rusia di perbatasan dengan Ukraina dan menegaskan kembali dukungan Amerika Serikat pada kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina," kata juru bicara Gedung Putih Jen Psaki, Sabtu (4/12).

Baca Juga: Hadapi Omicron, Biden Minta Warga Amerika Jangan Panik dan Kacau

Ia menambahkan topik-topik lain yang akan dibahas dalam pertemuan itu antara lain 'stabilitas strategis, siber dan isu-isu kawasan'. Kremlin mengatakan keduanya juga akan membahas hubungan bilateral dan implementasi kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan di Jenewa pada Juni lalu.

"Pembicaraan akan digelar pada Selasa, hubungan bilateral, masalah Ukraina dan realisasi kesepakatan yang dicapai di Jenewa merupakan (item) utama dalam agenda," kata Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov.

Kedua belah pihak tidak mengungkapkan waktu persisnya pembicaraan itu akan digelar.

Diyakini Rusia menumpuk 94 ribu pasukannya di dekat perbatasan Ukraina. Pada Jumat (3/12) lalu Menteri Pertahanan Rusia Oleksii Reznikov mengatakan berdasarkan informasi intelijen Moskow merencanakan penyerangan militer skala besar pada akhir Januari.

Pemerintah AS mengatakan mereka juga mencapai kesimpulan yang serupa. Sementara itu Biden menolak permintaan Rusia untuk jaminan keamanan di kawasan.

"Ekspektasi saya, kita akan melakukan diskusi yang panjang dengan Putin, saya tidak menerima batasan siapa pun," kata Biden pada wartawan Jumat lalu.

Presiden AS itu mengatakan ia dan penasehatnya sudah menyiapkan inisiatif komprehensif yang bertujuan mencegah Putin menggelar invansi. Ia tidak mengungkapkan detailnya tapi pemerintah AS sudah bekerja sama dengan sekutu-sekutunya di Eropa untuk menerapkan sanksi ke Rusia.

Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin mengatakan Washington berkomitmen memastikan Ukraina memiliki apa yang mereka butuhkan untuk melindungi wilayahnya. Austin menambahkan terdapat banyak ruang diplomasi dan kepemimpinan untuk bekerja di Ukraina.

Kiev dan negara-negara besar yang tergabung di NATO menuduh Rusia menumpuk pasukan di dekat Ukraina. Hal itu menimbulkan kekhawatiran kemungkinan Moskow berencana menggelar serangan ke Ukraina.

Rusia membantah tuduhan tersebut dan menuduh balik Ukraina. Moskow mengatakan justru Kiev yang menumpuk pasukannya di timur negara itu, wilayah yang dikuasai separatis yang didukung Rusia.

Pejabat pemerintah AS mengatakan mereka tidak tahu niat Putin termasuk apakah ia sudah memutuskan untuk menginvasi Ukraina. Hubungan AS-Rusia semakin memburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Terutama setelah Rusia menganeksasi semenanjung Krimea dari Ukraina pada 2014 lalu. Lalu disusul intervensi di Suriah tahun 2015 dan temuan intelijen AS mengenai campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden yang dimenangkan mantan Presiden Donald Trump. Kemudian menjadi sangat tidak stabil dalam beberapa bulan terakhir.

Pemerintah Biden juga meminta Moskow untuk menindak keras kejahatan siber dan ransomware yang dilakukan di wilayah Rusia. Pada bulan November lalu AS mendakwa seorang warga negara Ukraina dan Rusia dalam serangan ransomware terburuk terhadap target AS.

Rusia berulang kali membantah terlibat atau menoleransi serangan-serangan tersebut.

Biden dan Putin baru satu kali melakukan pertemuan tatap muka sejak Biden menjabat sebagai presiden bulan Januari lalu. Ketika mereka menggelar pertemuan di Jenewa pada Juni. Pembicaraan melalui sambungan telepon terakhir mereka dilakukan pada 9 Juli.

Pada awal pekan ini di Stockholm  Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken memperingatkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, AS dan sekutu-sekutunya di Eropa akan memberlakukan 'sanksi dan konsekuensi yang sangat merugikan bila Rusia melanjutkan tindakan agresif terhadap Ukraina'.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini