KOL Stories x Tanadi Santoso: Masa Depan Dunia Pendidikan dan Training di Era Hidup dengan Covid-19

KOL Stories x Tanadi Santoso: Masa Depan Dunia Pendidikan dan Training di Era Hidup dengan Covid-19 Kredit Foto: Instagram/Tanadi Santoso

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggaungkan agar masyarakat belajar hidup berdampingan dengan Covid-19 di Indonesia. Pasalnya, setelah pandemi Covid-19 menghantam dunia pada akhir tahun 2019 silam, miliaran orang di dunia dipaksa mengurangi mobilitas, tak terkecuali untuk bekerja, sekolah, dan beribadah. Banyak aktivitas yang melibatkan kerumunan harus dilakukan di rumah.

Beberapa waktu lalu, Presiden Jokowi kembali menyampaikan bahwa virus corona tak akan hilang sepenuhnya dari Indonesia meskipun berbagai jenis vaksin Covid-19 disalurkan di tengah masyarakat, dan seruan hidup berdampingan dengan Covid-19 terus didengungkan.

Baca Juga: KOL Stories x Coffee Meets Stocks: Senjata Perangnya Para Investor dan Trader

Masyarakat pun mau tidak mau harus terbiasa dengan kondisi normal yang baru atau new normal. Hal tersebut dijalankan di seluruh sendi kehidupan tak terkecuali sektor pendidikan. Kini proses belajar-mengajar juga dilakukan dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara daring (online) untuk memutus rantai penularan Covid-19.

Penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) merupakan solusi yang dapat dilakukan di masa pandemi ini akan tetapi jika terus berkepanjangan akan mengalami dampak penurunan kualitas pendidikan salah satunya yaitu learning loss (kehilangan minat belajar). Keadaan ini menjadi tantangan yang harus dihadapi agar pendidikan tetap terjaga kualitasnya dengan keterbatasan yang ada.

Namun, digitalisasi tak bisa dipungkiri memberikan kemudahan untuk dunia pendidikan di masa pandemi seperti saat ini. Karena dengan digitalisasi kini kita bisa menikmati pendidikan secara daring. Kemudian, platform untuk belajar pun kini kian banyak. Sehingga, sangat memudahkan kita untuk tetap mendapatkan pendidikan. 

Lalu bagaimana kah masa depan dunia pendidikan di saat kita harus hidup berdampingan dengan Covid-19?

Warta Ekonomi melalui program KOL Stories akan membahasnya bersama dengan Tanadi Santoso yang merupakan business motivational speaker sekaligus pengajar di Program Magister Teknologi ITS.

Pandemi Covid-19 telah menghantam dunia sejak tahun 2020, apa dampak yang paling besar yang dirasakan oleh dunia pendidikan dan training di kala pandemi?

Pada 15 Maret 2020, pandemi total terjadi di Jakarta. Semua acara di-cancel, semuanya berhenti. Dalam waktu dua minggu, ruang tamu saya rubah menjadi ruang training. Saat awal pandemi, penjualan pun minim dan pendapatan menjadi berkurang. Oleh karena itu, kita beralih ke platform digital dengan membuat seminar seputar training sehingga kita bisa kembali hampir setara seperti di tahun 2019.

Di dunia pendidikan juga terjadi kejadian seperti itu. Hingga memasuki 2021, kita sudah mulai jalan kembali dan melampaui target di tahun 2019 dan 2020. Jadi saat ini dunia pendidikan menjadi bergeser, karena mau tidak mau metode belajarnya via online. Perubahan yang terjadi di dunia pendidikan dan training memiliki dampak yang luar biasa.

Orang mungkin akan menganggap setelah ini akan kembali normal. Namun saya meminta semuanya untuk menyadari bahwa perubahan ini akan sangat dahsyat ke depannya, baik untuk pendidikan resmi, hingga training. 

Jika kita tarik, ada tiga manfaat dari training, yaitu dapat ijazah, kemudian mendapat ilmu pengetahuan, dan ketiga pengalaman. Di masa pandemi ini, training masih bisa dilakukan via daring, dan tingkat keberhasilannya bisa mencapai 80 persen, tergantung dari kualitas pengajar dan konsentrasi dari muridnya itu sendiri.

Kalau dari segi pengalaman, mungkin pelajaran yang membutuhkan interaksi langsung akan berpengaruh karena tidak bisa dilakukan via daring. Namun jika pelajaran tersebut tentang pengetahuan maka hal itu sangat memungkinkan digarap secara online

Dunia pendidikan sangat terbantu dengan adanya digitalisasi, apa boleh diceritakan bagaimana selama ini dunia pendidikan dan training untuk bertahan hidup saat pembatasan ketat terhadap mobilitas?

Jadi, problem utamanya itu kita tidak tahu apa sebenarnya yang terbaik untuk kita, karena tidak punya best practice. Hal itu disebabkan karena sebelumnya belum pernah terjadi pandemi seperti ini. Makanya kita perlu mencoba segala hal agar bisa mengetahui mana praktik terbaik dan mulai beradaptasi.

Pertanyaannya, ada berapa banyak guru dan dosen yang mau melakukan itu? Karena kita tahu masa depan training itu hybrid.

Lalu, bagaimana kira-kira masa depan dunia pendidikan dan training di masa new normal ini?

Masa depan kita itu hybrid. Jika dahulu tatap muka dalam tiga hari maka sekarang tatap muka satu hari memakai learning management teachable, menonton YouTube dalam tiga kali dalam satu jam, menggunakan Zoom dua kali, dan WhatsApp group dalam satu kali. Menurut Anda, mana yang lebih baik, saya training Anda selama lima hari atau dua hari namun tiga hari itu spread melalui Zoom?

Bisa jadi yang kedua, karena dapat mencoba ilmunya lalu memberikan feedback. Sekarang bisa saja saya melakukan training secara online setengah jam setiap hari selama enam minggu. Maka kata kuncinya adalah hybrid atau gabungan, daring dan luring. Tetapi sekali lagi, kita masih belum menemukan best practice dan masih mencoba.

Apa perubahan yang harus dilakukan untuk khusunya di dunia pendidikan agar dapat beradaptasi dengan keadaan normal baru?

Bergeser. Maksudnya adalah sudah tidak lagi seperti dulu, seperti tidak harus datang ke tempat, atau harga jasanya yang mahal, tetapi ilmu apa yang dibutuhkan. Dahulu market itu selalu terpecah. Jasa yang mahal selalu dibutuhkan oleh orang super kaya dan perusahaan besar. Kemudian level terbawah harganya akan menjadi murah dan yang tengah akan hilang.

Jadi, di dunia pendidikan akan bergeser, entah Anda memiliki spesialisasi yang jelas atau Anda menjualnya dengan harga yang murah sekali. Sekarang terjadi pergolakan besar di dunia training. Apa yang kita lakukan dalam dua tahun ini akan menentukan survive atau success kita di masa mendatang.

Apakah ada closing statement buat pemirsa?

Pandemi memang menekan kita yang bergerak di dunia pendidikan. Namun pada saat yang bersamaan, terjadinya pandemi juga membebaskan kita untuk belajar apa saja dari seluruh dunia. Perubahan yang sangat drastis ini menjadi kesempatan bagi kita untuk belajar demi sukses kita di masa depan.

Karena apa pun yang kita kerjakan saat ini akan menjadi tolak ukur sukses atau tidaknya kita dalam 10 tahun di masa mendatang. Kalau kita tidak memanfaatkan keadaan ini, kita akan tertinggal.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini