GAPKI Serahkan Batik Sawit Nusantara Kepada Presiden dan Jajaran Kabinetnya

GAPKI Serahkan Batik Sawit Nusantara Kepada Presiden dan Jajaran Kabinetnya Kredit Foto: Antara/Harviyan Perdana Putra

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyerahkan batik Sawit Nusantara yang merupakan hasil kolaborasi lintas generasi kepada Presiden Joko Widodo dan wakil Presiden Ma’ruf Amin.  Selain untuk Presiden dan Wapres, Gapki juga menyerahkan 55 Batik Sawit Nusantara untuk para menteri di jajaran Kabinet.

Wakil Ketua III Gapki, Togar Sitanggang mengatakan, Batik Sawit Nusantara diolah dengan menggunakan fraksi padat turunan minyak kelapa sawit yang disebut palm wax sebagai malam batik. Selain berbahan baku palm wax, desain Batik Nusantara sarat dengan pesan penting tentang manfaat kelapa sawit.

Baca Juga: Harga Sawit di Provinsi Sentra Indonesia Periode Oktober Ini Kembali Meroket

“Pembuatan Batik Sawit Nusantara dilandasi pemikiran bahwa sawit sebagai salah satu kekayaan alam Indonesia, harus terus didengungkan manfaatnya. Di sisi lain, ada pesan hilirisasi di dalamnya,” kata Togar dalam keterangannya, Selasa (19/10).

Togar yang juga penggagas ide batik Sawit Nusantara mengatakan, Batik Sawit Nusantara dikerjakan oleh tim perancang lintas generasi. Riset palm wax dikerjakan Indra Budi Susetyo seorang profesional peneliti di OR PPT- BRIN dan teknik membatik dikerjakan oleh pembatik berpengalaman Wirasno.

Sementara desain batik dikerjakan Herdiyanto dan Syihan Rama Santosa. Kedua desainer ini merupakan milenial berpengalaman yang melahirkan banyak karya di industri kreatif.

Menurut Herdiyanto yang bertindak sebagai brand designer, batik bermotif Ciptadira yang diberikan kepada Presiden Jokowi melambangkan gabungan kreasi dan makna kebijakan di dalamnya.

Syihan Rama Santosa yang mendesain motif Panca Jagat untuk Wapres Ma’ruf Amin mengatakan, batik tersebut memiliki makna empat elemen dasar yakni air, udara, tanah dan api. Motif ini mengandung makna alam semesta atau Sang Hyang Agung. 

“Gambar kujang dan tanduk rusa di motif Panca jagat melambangkan ide sarat makna. Ini berawal dari Bogor, kota pertama kelapa sawit ditanam di Indonesia,” jelas Syihan.

Wirasno, perajin batik yang telah berkecimpung lebih dari 20 tahun mengatakan, penggunaan palm wax mampu mengimbangi paraffin dalam menghasilkan warna. “Hasil pewarnaan lebih tajam dan cerah karena tahan terhadap larutan alkali dan asam akibat zat pewarna sintesis,” kata Wirasno. 

Dikatakan Wirasno, ke depan, penggunaan palm wax sebagai malam batik lebih terjamin karena tidak perlu mengandalkan pasokan impor.  Selain pasokannya mudah, inovasi yang dikembangkan BRIN akan memberi banyak perbaikan kualitas serta ada pesan Go Green dan Go Sustainability di dalammya.

Sementara itu, Direktur Utama BPPDKS, Eddy Abdurrachman mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk mengembangkan kemitraaan dengan UMKM Batik Sawit Nusantara terutama di provinsi yang menjadi sentra sawit di Indonesia. Saat ini, batik tidak hanya berkembang di Jawa, bahkan telah menyebar hingga ke Sumatra. 

“Karena keanekaragaman budaya, kami berharap desain dan corak batik karya anak bangsa akan lebih kaya sesuai dengan kearifan lokal. BPDPKS berkomitmen untuk mengembangkan UMKM Batik Sawit Nusantara seluruh daerah di Indonesia,” kata Eddy. 

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini