Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Kata Korea Utara, Squid Game Membuktikan bahwa Kapitalisme Tidak Berhasil

Kata Korea Utara, Squid Game Membuktikan bahwa Kapitalisme Tidak Berhasil Kredit Foto: Netflix
Warta Ekonomi, Jakarta -

Netlfix secara resmi mengumumkan bahwa Squid Game adalah serial orisinal yang paling banyak ditonton sejauh ini. Dan, menurut Korea Utara, karya sinema itu merupakan bukti bahwa kapitalisme tidak berhasil.

"Dikatakan bahwa (Squid Game) membuat orang menyadari kenyataan menyedihkan dari masyarakat Korea Selatan yang kejam di mana manusia didorong ke dalam persaingan yang ekstrim dan kemanusiaan mereka dimusnahkan," tulis media yang dikelola pemerintah pada Selasa (12/10/2021).

Baca Juga: Sadis! Squid Game Dicap Kim Jong Un Cerminan Masyarakat Brutal Korea Selatan

Pertunjukan tersebut, melansir CNet, Jumat (15/10/2021), menggambarkan "proses ratusan orang yang dipaksa menjalani kehidupan neraka, berjuang dengan hutang yang tak tertahankan, dalam permainan brutal di mana mereka saling membunuh untuk mengklaim hadiah uang yang hanya diberikan kepada satu pemenang."

Squid Game --permainan anak-anak sekolah yang populer di Korea Selatan-- yang mulai streaming pada 17 September, berfokus pada sekelompok orang yang sangat berhutang budi di Korea Selatan. Mereka pertama kali ditipu ke dalam turnamen mematikan permainan anak-anak, tetapi kemudian banyak dari mereka secara sukarela kembali, menyadari bahwa permainan itu mungkin satu-satunya kesempatan mereka untuk memenangkan uang yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup.

Squid Game telah menjadi hit yang tak terduga di seluruh dunia. Ini telah ditonton secara luas di China meskipun Netflix dilarang di negara tersebut.

Di Korea Selatan, Squid Game bertanggung jawab atas begitu banyak aktivitas daring sehingga penyedia layanan internet menggugat Netflix karena melonjaknya biaya jaringan. Politisi Korea Selatan telah memanfaatkan popularitasnya, menggunakan acara itu untuk mengkritik lawan karena korupsi dan ketidakmampuan.

Rupanya, tetangga komunis negara itu tidak bisa menahan dorongan yang sama.

"Masyarakat Korea Selatan saat ini di mana jumlah pecundang dalam kompetisi sengit, seperti pekerjaan, real estat, dan saham, meningkat secara dramatis," bunyi propaganda Korea Utara.

Editor: Muhammad Syahrianto

Bagikan Artikel:

Video Pilihan