Haru! Bocah Muslim Tanpa Orang Tua Diselamatkan dari Taliban, Sosoknya Seorang Rabi Yahudi

Haru! Bocah Muslim Tanpa Orang Tua Diselamatkan dari Taliban, Sosoknya Seorang Rabi Yahudi Kredit Foto: Hamodia/Reuvain Borchardt

Mereka mengeluarkan saya dalam waktu 24 jam

Salah seorang yang dibantu Rabi Margaretten adalah Fareeda (bukan nama sebenarnya), seorang aktivis yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak-anak.

"Ketika Taliban mengambil alih kekuasaan, saya kehilangan segalanya," kata perempuan berusia 25 tahun itu, "harapan saya, impian saya, kebebasan saya; saya tidak bisa keluar, saya tidak bisa pergi bekerja atau ke universitas - saya kehilangan kepribadian saya".

Dia mengatakan dia "bertarung dan berjuang" demi hak-haknya selama bertahun-tahun dan menemukan kembalinya Taliban ke kekuasaan jadi menghancurkan harapannya.

"Saya mengorganisir aksi protes mendesak Taliban supaya membiarkan kami menjaga hak-hak kami," katanya.

Fareeda menggunakan media sosial untuk membagikan foto-foto demonstrasi, yang terkadang diwarnai kekerasan di mana Taliban menggunakan peluru tajam, pentungan, dan cambuk.

Dan, foto-foto itu kemudian digunakan Taliban untuk mengidentifikasi dirinya.

"Mereka datang ke distrik saya," ungkapnya, seraya menggambarkan bagaimana aparat kemananTaliban mengetuk pintu, yang memaksanya untuk bersembunyi.

Takut akan apa yang mungkin terjadi, Fareeda meminta bantuan, dan dengan cepat terhubung dengan tim Rabi Margaretten di lapangan.

"Mereka membawa saya dan seluruh keluarga saya keluar dari Afghanistan dalam waktu 24 jam," katanya, sambil menambahkan: "Saya sangat senang."

Ketika pasukan Taliban dengan cepat menguasai Afghanistan pada Agustus, PBB memperingatkan bahwa kelompok militan itu meningkatkan pencariannya terhadap orang-orang yang bekerja untuk pasukan asing dan mantan pegawai pemerintah.

Aalem (bukan nama sebenarnya), adalah mantan penerjemah Afghanistan yang berhubungan dengan Rabi melalui koneksi internasionalnya.

Dia mengatakan dia masih remaja pada 2003 ketika dia mengajukan diri sebagai penerjemah bagi mendiang Donald Rumsfeld, yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan untuk Presiden AS George W Bush.

Sekarang di usianya yang memasuki 36 tahun, Aalem mengatakan dia takut tentang masa depan negaranya dan merasa lega setelah berhasil melarikan diri.

"Saya adalah salah seorang aktivis yang harus melarikan diri," ujarnya.

"Perubahan rezim membuat saya merasa sangat rentan, sangat berisiko bagi mantan penerjemah. Afghanistan bukan lagi pilihan sebagai tempat tinggal."

Dia mengatakan Asosiasi Tzedek sangat efektif dalam mengidentifikasi orang-orang yang rentan, tetapi menambahkan:

"Ada ribuan lagi yang masih membutuhkan dukungan itu."

Pada hari-hari setelah Taliban menguasai Kabul, pesawat AS dan koalisi telah mengevakuasi lebih dari 123.000 warga sipil - meskipun tidak jelas berapa banyak dari mereka adalah warga negara Afghanistan.

Ribuan orang masih berusaha meninggalkan negara itu setiap hari.

Rabi Margaretten mengatakan dia akan melanjutkan upayanya untuk membantu mereka "selama diperlukan".

Tampilkan Semua
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Suara.com Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Suara.com. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Suara.com.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini