Skenario Business as Usual Dinilai 'Kedaluwarsa': Visi Indonesia 2045 Bisa Tak Tercapai

Skenario Business as Usual Dinilai 'Kedaluwarsa': Visi Indonesia 2045 Bisa Tak Tercapai Kredit Foto: Antara/Fikri Yusuf

Menteri Perencanaan Pembangunan (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa menilai, skenario business as usual sudah tak efektif untuk mencapai visi Indonesia 2045 dan membantu RI keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap).

"Dari aspek sustainability, pembangunan business as usual dinilai tak lagi mampu menjawab tantangan yang ada, terutama untuk jangka panjang," kata Suharso dalam webinar "A Green Economy for a Net-Zero Future: How Indonesia can Build Back Better after Covid-19", Rabu (13/10/2021).

Baca Juga: Pintu Masuk Internasional Akan Segera Dibuka, Satgas: Demi Pemulihan Ekonomi Masyarakat

Berdasarkan hasil laporan Low Carbon Development Indonesia (LCDI), rata-rata Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan berada di kisaran 5,3% pada 2021-2050 dan 3,6% pada 2050-2060. Angka tersebut merupakan hasil proyeksi tanpa mempertimbangkan carrying capacity.

Sementara, jika mempertimbangkan carrying capacity, rata-rata tingkat pertumbuhan PDB RI pada 2021-2050 diperkirakan sebesar 5,0% dan 2,4% pada 2050-2060.

Proyeksi tersebut mengacu kepada berbagai studi yang ditemukan saat menyusun laporan. Deputi Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Bappenas Arifin Rudiyanto mengungkapkan, studi Swiss Re Group memprediksi PDB Indonesia akan menurun hingga 16,7-30,2% apabila terjadi peningkatan suhu sebesar 2,0-2,6 derajat celcius pada 2050.

Kemudian, permintaan energi diperkirakan akan meningkat sebanyak 3 kali lipat pada 2060. "Apabila terus-menerus dipenuhi dengan sumber energi fosil, akan menimbulkan dampak negatif akibat polusi udara dan kenaikan emisi gas rumah kaca," jelas Arifin.

Selanjutnya, skenario business as usual juga diperkirakan akan memengaruhi daya dukung dan daya tampung lingkungan. Pada 2045 mendatang, tutupan hutan diproyeksikan akan berkurang menjadi 45% jika penerapan business as usual masih terus digunakan.

Kawasan habitat juga tak terlepas dari aspek yang akan terkena dampak dari keberlanjutan skenario business as usual. Menurut Arifin, kawasan habitat akan mengalami penurunan dan mengancam kepunahan spesies menjadi sekitar 49,7% pada 2045.

"Dari berbagai dampak yang kita analisis karena business as usual tersebut, akan terjadi penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi jangka panjang sehingga Indonesia akan sulit mencapai visi 2045 dan keluar dari middle income trap," pungkasnya.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini