Paling Ditunggu-Tunggu! Sekarang Rogoh Kocek Ratusan Ribu Rupiah Bisa Borong Saham BCA!

Paling Ditunggu-Tunggu! Sekarang Rogoh Kocek Ratusan Ribu Rupiah Bisa Borong Saham BCA! Kredit Foto: Instagram/Jahja Setiaatmadja

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Mulai Rabu, 13 Oktober 2021, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) resmi diperdagangkan dengan harga baru. Setelah stock split saham dengan rasio 1:5, saham BCA kini dapat dibeli dengan kocek ratusan ribu rupiah per lot (100 lembar saham).

Untuk diketahui, nilai nominal per saham BCA sebelum stock split adalah sebesar Rp62,5 dan setelah stock split menjadi Rp12,5 per saham. Sementara itu, harga saham BCA sampai dengan Rabu pagi berkisar di angka Rp7.320 per saham atau setara dengan Rp36.600 per saham sebelum stock split. Itu artinya, jika dulu untuk membeli satu lot saham BBCA butuh dana setidaknya Rp3.600.000, sekarang investor dapat membelinya mulai dari harga Rp730.000 saja. Baca Juga: Kabar Buruk Bikin Kalang Kabut, Ujung-Ujungnya Rupiah Ambruk!

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja, berharap bahwa harga saham BCA dapat lebih terjangkau bagi investor, khususnya investor pemula yang berinvestasi di pasar modal domestik. Ia pun menegaskan bahwa BCA akan berkomitmen untuk selalu menjaga soliditas fundamental perusahaan melalui pertumbuhan kinerja yang berkesinambungan sehingga dapat memberi nilai tambah bagi pemegang saham. Baca Juga: Indonesia Knowledge Forum X-2021: Hidup Berdampingan dengan Pandemi, Menyongsong Pemulihan Ekonomi

"Dengan harga baru yang mulai diperdagangkan hari ini, perseroan berharap harga saham BCA menjadi relatif terjangkau dan mendapat sambutan positif dari investor, terutama investor pemula yang saat ini aktif berinvestasi di pasar modal," pungkas Jahja pada Rabu, 13 Oktober 2021.

Selanjutnya, saham dengan nilai nominal baru hasil stock split akan didistribusikan oleh  PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) kepada pemegang saham pada 15 Oktober 2021. Keputusan BCA untuk melakukan pemecahan harga saham tersebut didasarkan pada perkembangan pasar modal saat ini, terutama dengan tingginya minat investor ritel termasuk para investor muda untuk berinvestasi di pasar modal. 

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini