Pangkalan Militer Turki di Suriah Berdiri dalam Waktu Kurang dari Seminggu

Pangkalan Militer Turki di Suriah Berdiri dalam Waktu Kurang dari Seminggu Kredit Foto: Reuters

Turki mendirikan pos militer kedua di Idlib, Suriah dalam waktu kurang dari seminggu. Langkah ini diambil menyusul permintaan Rusia agar Turki mengevakuasi titik-titik pengamatannya di kawasan itu, seiring dengan datangnya konvoi militer rezim ke Saraqib.

Akibatnya, tentara Turki mengerahkan pasukannya dan memperkuat mereka dengan tank dan kendaraan lapis baja di seluruh garis pertempuran di sekitar Saraqib, Jabal al-Zawiya dan pedesaan barat Aleppo. Ini juga meningkatkan tingkat kesiapan tentaranya di zona de-eskalasi di barat laut Suriah.

Baca Juga: Turki dan Azerbaijan Rencanakan Latihan Militer Setelah Iran Pindahkan Pasukan

Sementara itu, melansir Asharq Al-Awsat, Selasa (12/10/2021), Ankara mengecam kebijakan AS di Suriah dan mendesak Amerika Serikat untuk memperbaiki kesalahannya setelah Presiden Joe Biden memperbarui kekuatan darurat nasional Amerika dalam menangani Suriah, serta sanksi yang dijatuhkan pada Turki.

Ankara dikenai sanksi karena menargetkan Unit Perlindungan Rakyat Kurdi (YPG) di Suriah utara melalui Operasi Mata Air Perdamaian pada Oktober 2019.

Turki memandang YPG, komponen terbesar dari Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung AS, sebagai cabang dari Partai Pekerja Kurdistan (PKK), yang juga dianggap sebagai teroris.

“Alih-alih menyalahkan Turki, AS harus meninggalkan kebijakannya sendiri yang salah, dan harus lebih jujur kepada rakyat Amerika dan Kongresnya,” kata Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu.

Dia mengatakan keputusan Biden baru-baru ini mengingat kerja sama AS dengan YPG, yang ilegal menurut hukum AS.

“Kami tahu betul bahwa tujuan berada di sini (di Suriah) bukan untuk melawan ISIS,” tegasnya.

“Kami telah berperang melawan ISIS. Satu-satunya tentara yang berperang melawannya adalah tentara kita di NATO dan dunia.”

Pekan lalu, Biden menuduh Turki melakukan serangan militer ke timur laut Suriah, merusak kampanye untuk mengalahkan ISIS, membahayakan warga sipil dan selanjutnya mengancam akan merusak perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan itu.

Ankara terus menimbulkan ancaman yang tidak biasa dan luar biasa terhadap keamanan nasional dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat, tegasnya.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini