Soal Penggunaan Obat Covid-19, IDI Masih Tunggu Persetujuan

Soal Penggunaan Obat Covid-19, IDI Masih Tunggu Persetujuan Kredit Foto: Antara/Aprillio Akbar

Penurunan kasus Covid-19 di dunia, salah satunya berkat vaksin, membuat perusahaan farmasi dunia mulai mengembangkan obat-obatan virus korona. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam posisi menyambut baik terobosan farmasi terkait pengobatan Covid-19.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 IDI Zubairi Djoerban menyambut baik terobosan obat Covid-19. Untuk penggunaannya di Indonesia, IDI tetap akan menunggu izin keluar dari Food and Drugs Association (FDA) Amerika Serikat ataupun Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

"Kita lihat apakah izin sebagai obat standar, emergency, atau ditolak. Saat ini masih menunggu," ujar Zubairi, Selasa (12/10).

Salah satu pengobatan Covid-19 yang sedang dibahas di luar negeri adalah terapi dari AstraZeneca, yaitu kombinasi dua antibodi monoklonal yang bekerjanya panjang. "Jadi memang (obat) ini memberikan harapan. Tinggal tunggu FDA atau BPOM apakah menyetujui pengobatan mengurangi Covid dengan gejala atau simptomatik," terangnya.

Satu lagi obat Covid-19 yang disebut-sebut efektif adalah Molnupiravir. Zubairi mengatakan, obat itu bekerja bak 'tukang tipu', tapi bukan berarti tidak efektif untuk menangani virus Covid-19.

Menurut Zubairi, Molnupiravir ini merupakan obat pertama yang dirancang untuk menipu virus Covid-19 sehingga efektif. Profil obat Molnupiravir, di antaranya sebagai calon obat oral pertama pasien Covid-19, dirancang menipu virus agar tak bereplika.

Juru Bicara PB IDI Erlina Burhan mengatakan, sudah terpikirkan untuk ke depannya memakai obat antibodi monoklonal dan juga Molnupiravir. Ia mengatakan, beberapa jenis antibodi monoklonal sebenarnya sudah dipakai di Indonesia.

"Molnupiravir pun sepertinya juga akan segera masuk Indonesia. Beberapa perusahaan farmasi juga akan mengimpor obat tersebut," ujarnya saat dikonfirmasi Republika.

Beberapa perusahaan farmasi di dunia sudah mulai mengembangkan obat-obatan virus korona selain vaksin. Terbaru, perusahaan farmasi asal Inggris, AstraZeneca, melakukan uji klinis tahap akhir dengan campuran dua antibodi yang disebut AZD7442.

Diyakini, obat tersebut mengurangi risiko Covid-19 parah atau kematian hingga 50 persen pada pasien yang tidak dirawat di rumah sakit dengan gejala selama tujuh hari atau kurang. Hall ini memenuhi tujuan utama penelitian.

Terapi suntik AstraZeneca ini menjanjikan sebagai obat pencegahan maupun pengobatan Covid-19 setelah beberapa uji coba. Terapi dirancang untuk melindungi orang yang tidak memiliki respons kekebalan cukup kuat terhadap vaksin.

Terapi serupa dibuat dengan kelas obat yang disebut antibodi monoklonal juga sedang dikembangkan oleh Regeneron, Eli Lilly, dan GlaxoSmithKline dengan mitra Vir Biotechnology. Terapi ini disetujui untuk penggunaan darurat di Amerika Serikat guna mengobati Covid-19 gejala ringan hingga sedang.

Pekan lalu, AstraZeneca juga sudah meminta FDA untuk memberikan izin penggunaan darurat AZD7442 sebagai terapi pencegahan. AstraZeneca juga mengirimkan data dari berbagai studi AZD7442 ke regulator kesehatan global.

Beberapa waktu lalu juga ramai dibicarakan obat oral pertama untuk Covid-19 bernama Molnupiravir yang diluncurkan perusahaan Merck. Berdasarkan hasil uji klinis, obat oral Covid-19 Molnupiravir diklaim ampuh atau efektif untuk mencegah Covid-19 dan mengurangi rawat inap.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini