Kyai Said Dibilang Banyak Main-Main Politik, Gus Baha Dinilai Cocok jadi Ketum PBNU

Kyai Said Dibilang Banyak Main-Main Politik, Gus Baha Dinilai Cocok jadi Ketum PBNU Kredit Foto: Instagram/Ahmad Bahauddin Nursalim

Survei Indostrategic baru saja merilis hasil survei terkait Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Survei ini dilakukan pada 23 Maret–5 April 2021 dengan melibatkan 1.200 responden. Survei ini memiliki ambang batas kesalahan 3 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Melalui survei tersebut, ulama Gus Baha masuk bursa ketua PBNU posisi keempat yang mengancam posisi Said Aqil Siradj.

"Gus Baha 12,4 persen,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis, 7 Oktober 2021.

Khoirul menyampaikan, munculnya Gus Baha dalam bursa itu menunjukkan keinginan warga NU untuk regenerasi kepemimpinan.

Lebih dari itu, Gus Baha dinilai sebagai jawaban atas tradisi intelektual pesantren yang luntur beberapa waktu terakhir.

Selain itu, lanjut Khoirul, Gus Baha bisa menempati posisi keempat dipengaruhi exposure media sosial (medsos). Dia menilai popularitas Gus Baha di medsos mampu menarik simpati sebagian warga Nahdliyyin.

"Popularitas nama Gus Baha di kalangan warga Nahdliyyin secara general, khususnya Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur,” jelasnya.

Lebih jauh, Khoirul berpendapat, sebagian warga Nahdliyyin menghendaki suksesi ketua umum PBNU. Penyebabnya adalah gaya kepemimpinan Said Aqil yang cenderung lekat dengan politik praktis.

"Misalnya, terkait wacana kebijakan publik amandemen UU KPK hingga penyelamatan 57 pegawai senior KPK, sikap dan keberpihakan PBNU kurang jelas,” tuturnya.

Sebelumnya, Said Aqil menyatakan kesiapannya untuk kembali maju pada pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 23-25 Desember 2021. Dengan ini, dia berpotensi menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) seumur hidup.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini