Ukir Sejarah Baru, Pesawat Berbahan Bioavtur Sawit Mengudara dari Bandung ke Jakarta

Ukir Sejarah Baru, Pesawat Berbahan Bioavtur Sawit Mengudara dari Bandung ke Jakarta Kredit Foto: Mochamad Rizky Fauzan

Indonesia kembali mencetak sejarah melalui penerbangan pesawat CN235 dari Bandung ke Jakarta dengan menggunakan Bioavtur J2.4.  Bioavtur J2.4 merupakan bahan bakar campuran dari 2,4 persen minyak inti sawit (Refined Bleached Degummed Palm Kernel Oil/RBDPKO) dengan avtur fosil dan menggunakan katalis.

“Hari ini (6 Oktober 2021) sejarah telah tercipta, berkat dukungan dan kerjasama seluruh stakeholder yang terlibat, penerbangan perdana menggunakan bahan bakar nabati, campuran Bioavtur 2,4 persen yang telah dinanti Bangsa Indonesia, akhirnya terlaksana menempuh jarak Bandung – Jakarta menggunakan pesawat CN235”, ungkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arifin Tasrif.

Baca Juga: Tahun 2030: Kelapa Sawit Indonesia Didominasi Perkebunan Rakyat

Serangkaian proses dan kegiatan telah dilalui dalam pengembangan Bioavtur J2.4 ini. Mulai dari sinergi penelitian antara Pertamina Research & Technology Innovation (Pertamina RTI) dan Pusat Rekayasa Katalisis Institut Teknologi Bandung (PRK-ITB) dalam pengembangan katalis “MerahPutih” hingga serangkaian uji teknis dan uji terbang yang juga telah selesai dilakukan. 

Kegiatan ini termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) Hilirisasi Industri Katalis dan Bahan Bakar Biohidrokarbon yang dikoordinasikan oleh Kementerian ESDM, serta termasuk dalam etalase Prioritas Riset Nasional (PRN) Pengembangan Teknologi Produksi Bahan Bakar Nabati berbasis Minyak Sawit dan Inti Sawit, yang dikoordinasikan oleh Badan Riset & Inovasi Nasional (BRIN).

Peraturan Menteri ESDM Nomor 12/2015 telah mengatur kewajiban pencampuran bahan bakar nabati dalam bahan bakar jenis avtur dengan persentase sebesar 3 persen pada tahun 2020, dan pada tahun 2025 akan meningkat menjadi bioavtur 5 persen. Menteri Arifin mengharapkan dukungan semua pihak dalam tahapan-tahapan uji berikutnya, termasuk penyusunan roadmap untuk komersialisasi.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto yang hadir secara virtual dalam sambutannya menyampaikan, keekonomian Bioavtur J2.4 harus terpenuhi dengan memanfaatkan segala fasilitas yang telah diberikan oleh Pemerintah, baik terkait perpajakan seperti super tax deduction untuk riset maupun insentif non fiskal. Dengan perkiraan konsumsi avtur harian sekitar 14 ribu KL, maka potensi pasar bioavtur J2.4 akan mencapai sekitar Rp1,1 triliun pertahunnya.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini