PTM Terbatas Berjalan Lancar, Dokter Reisa: Kalau Terus Terjaga, PTM Akan Berlanjut

PTM Terbatas Berjalan Lancar, Dokter Reisa: Kalau Terus Terjaga, PTM Akan Berlanjut Kredit Foto: Instagram/Reisa Broto Asmoro

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, dr. Reisa Broto Asmoro, melaporkan perkembangan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas yang telah berjalan di sejumlah sekolah.

"Dari hasil pemantauan kami di sekitar Pulau Jawa, PTM mengajarkan banyak hal terhadap guru, orang tua, dan peserta didik lainnya," kata Reisa dalam siaran pers daring, Rabu (22/9/2021).

Baca Juga: 90 Siswa Positif COVID, PTM Terpaksa Ditunda, Bupati Purbalingga Bilang Begini...

Hal pertama yang ia soroti dari pelaksanaan PTM terbatas adalah pemandangan kedatangan dan kepulangan sekolah dipenuhi oleh ketertiban antrean. "Terutama untuk diperiksa kondisi kesehatan dan mencuci tangan sebelum masuk ke ruang kelas," jelasnya.

Kemudian, nilai lama mengantar dan menjemput anak dari dan ke sekolah kembali membudaya di antara hampir seluruh orang tua yang anaknya mengikuti percobaan PTM terbatas.

"Karena banyak pihak sekolah yang mewajibkan orang tua mengantar dan menjemput anaknya untuk meminimalisasi risiko tertular Covid-19 dalam perjalanan pergi ataupun pulang dari sekolah," ujar Reisa.

Selain itu, Reisa juga mengatakan beberapa sekolah telah mengombinasikan sistem belajar daring dan luring. Menurutnya, konsep ini perlu dibiasakan dalam proses belajar mengajar selama pandemi. Bahkan, kata Reisa, ada kemungkinan konsep ini akan terus berlanjut setelah pandemi usai nanti.

"Beberapa sekolah di Jawa Tengah mulai mendiskusikan blended hybrid learning sebagai opsi praktik belajar mengajar. Terutama untuk mengantisipasi naik turunnya kasus Covid-19, atau kita kenal sebagai naik turunnya level PPKM," tutur Reisa.

Ia menegaskan, kunci keberhasilan PTM terbatas bergantung pada kedisiplinan masyarakat, guru, orang tua, dan murid. Apabila situasi kondusif PTM terbatas terus terjaga, sistem pembelajaran tersebut akan berlanjut. Namun sebaliknya, bila kedisiplinan menurun dan kasus meningkat kembali, PTM terbatas harus dikurangi dan pembelajaran jarak jauh (PJJ) kembali menjadi opsi.

"Hal ini sesuai dengan public health and social measures WHO yang kita rujuk sebagai indikator level PPKM," ungkapnya.

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini