Apa Itu Cultivation Theory?

Apa Itu Cultivation Theory? Kredit Foto: Istimewa

Cultivation theory pertama kali dikemukakan oleh George Gerbner. Teori ini merupakan salah satu teori inti dari media effect. Menurut teori tersebut, orang yang sering menonton televisi lebih cenderung terpengaruh oleh pesan-pesan dari dunia pertelevisian. Pengaruhnya sedemikian rupa sehingga pandangan dan persepsi dunia mereka mulai mencerminkan apa yang mereka lihat dan dengar berulang kali di televisi. Oleh karena itu, televisi dianggap berkontribusi secara independen terhadap cara orang memandang realitas sosial. Simak selengkapnya untuk mengenal teori kultivasi.

Baca Juga: Apa Itu Hypodermic Needle Theory?

Sejarah Terciptanya Cultivation Theory

Cultivation theory menjelaskan bahwa paparan secara berulang ke media dari waktu ke waktu memengaruhi persepsi realitas sosial seseorang. Teori ini berasal dari George Gerbner pada tahun 1960-an, dan hingga saat ini paling sering diterapkan pada audiens televisi untuk menunjukkan bahwa persepsi mereka terhadap dunia nyata menjadi cerminan dari pesan paling umum yang dikemukakan oleh televisi.

Ketika George Gerbner pertama kali mengusulkan ide teori kultivasi pada tahun 1969, teori ini hadir sebagai tanggapan terhadap tradisi penelitian media effect yang hanya berfokus pada efek jangka pendek dari paparan media yang dapat ditemukan dalam eksperimen. Akibatnya, penelitian ini mengabaikan pengaruh paparan jangka panjang terhadap media. Pengaruh seperti itu akan terjadi secara bertahap ketika orang menghadapi media berulang kali dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Gerbner mengusulkan bahwa dari waktu ke waktu, paparan berulang dari media massa menumbuhkan keyakinan bahwa pesan yang disampaikan oleh media tersebut berlaku di dunia nyata. Karena persepsi orang dibentuk oleh paparan media, keyakinan, nilai, dan sikap mereka juga terbentuk dari sana.

Televisi Dinilai Membawa Pengaruh bagi Pikiran Khalayak Luas

Ketika Gerbner awalnya memahami teori kultivasi, saat itu masih menjadi bagian dari proyek "indikator budaya" yang lebih luas. Proyek ini menunjuk pada tiga bidang analisis: analisis proses kelembagaan, yang mengeksplorasi bagaimana pesan media dirumuskan dan didistribusikan; analisis sistem pesan, yang mengeksplorasi pesan-pesan yang disampaikan secara keseluruhan; analisis kultivasi, yang mengeksplorasi bagaimana pesan media memengaruhi cara konsumen media memandang dunia nyata. Sementara ketiga komponen tersebut saling berkaitan, analisis budidayalah yang paling banyak diteliti oleh para pakar.

Studi Gerbner secara khusus didedikasikan pada dampak televisi terhadap audiensnya. Gerbner percaya bahwa televisi adalah media bercerita yang dominan di masyarakat. Fokusnya pada televisi muncul dari beberapa asumsi tentang media. Gerbner melihat televisi sebagai sumber pesan dan informasi yang paling luas dibagikan dalam sejarah. Bahkan, ketika pilihan saluran dan sistem pengiriman mulai berkembang, Gerbner bersikeras bahwa isi televisi terkonsentrasi menjadi serangkaian pesan yang konsisten.

Dia mengusulkan bahwa televisi membatasi pilihan karena, sebagai media massa, televisi harus menarik khalayak yang besar dan beragam. Jadi, meskipun pilihan pemrograman berkembang pesat, pola pesannya tetap sama. Akibatnya, televisi kemungkinan besar akan menumbuhkan persepsi realitas yang serupa untuk orang yang berbeda.

Seperti yang ditunjukkan oleh asumsinya tentang televisi, Gerbner tidak tertarik pada dampak dari satu pesan atau persepsi pemirsa individu tentang pesan-pesan itu. Dia ingin memahami bagaimana pola pesan televisi yang luas memengaruhi pengetahuan publik dan memengaruhi persepsi kolektif.

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini