Wali Kota Kabul Serukan Wanita Hanya Tinggal di Rumah, Mengingat Taliban...

Wali Kota Kabul Serukan Wanita Hanya Tinggal di Rumah, Mengingat Taliban... Kredit Foto: Reuters/Francois Lenoir

Wali Kota Kabul Hamdullah Noman meminta kepada seluruh karyawan perempuan agar tinggal di rumah. Perempuan dapat bekerja jika pekerjaan yang mereka lakukan tidak dapat dikerjakan oleh pekerja laki-laki.

Noman mengatakan, pemerintahan Taliban perlu merumahkan pekerja perempuan untuk sementara waktu hingga situasi aman. Menurut Noman, sekitar sepertiga dari 3.000 karyawan di Kabul adalah perempuan.

Baca Juga: Suram Pendidikan Afghanistan untuk Para Pelajar Perempuan,Taliban Lupakan Janji?

Noman mengatakan, beberapa karyawan perempuan akan terus bekerja. Misalnya, perempuan yang bekerja sebagai petugas kebersihan toilet perempuan.

"Tapi untuk posisi yang bisa diisi (laki-laki) kami telah menyuruh mereka (perempuan) untuk tinggal di rumah sampai situasinya normal. Gaji mereka akan tetap dibayarkan," ujar Noman, dilansir BBC, Senin (20/9).

Sejak Taliban mengambil alih kekuasaan, para pekerja perempuan diperintahkan untuk tinggal di rumah sampai situasi keamanan membaik. Ini adalah pembatasan terbaru yang diterapkan oleh Taliban kepada pada pekerja perempuan.

Sebelumnya ketika Taliban berkuasa pada 1990-an, perempuan dilarang mengenyam pendidikan dan bekerja. Setelah merebut Afghanistan pada Agustus lalu, Taliban berjanji akan menghormati hak-hak perempuan dalam kerangka hukum Islam.

Puluhan aktivis perempuan melakukan aksi protes di luar Kementerian Perempuan Afghanistan pada Minggu (19/9). Mereka melakukan aksi protes setelah pemerintahan Taliban menutup kementerian tersebut dan menggantinya dengan Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan.

Staf wanita mengatakan, mereka telah mencoba untuk kembali bekerja di kementerian selama beberapa minggu sejak Taliban berkuasa. Namun mereka diminta untuk kembali ke rumah.

“Kementerian Perempuan harus diaktifkan kembali. Penghapusan (kementerian) perempuan berarti penghapusan manusia," ujar salah satu pengunjuk rasa Baseera Tawana.

Protes itu terjadi sehari setelah beberapa anak perempuan kembali ke sekolah dasar dengan kelas yang dipisahkan berdasarkan gender. Tetapi Taliban telah mengecualikan anak perempuan dari sekolah menengah Afghanistan. Sementara anak laki-laki dan guru laki-laki sekolah menengah diizinkan kembali ke ruang kelas.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini