Indonesia Bersimpati pada Taliban yang Berubah, Lebih Banyak Kerugian dari Kebaikan

Indonesia Bersimpati pada Taliban yang Berubah, Lebih Banyak Kerugian dari Kebaikan Kredit Foto: Getty Images/AFP/Patrick Semansky

Sejak pengambilalihan yang mengejutkan atas ibu kota Afghanistan, Kabul bulan lalu, Taliban, yang sekarang menjadi pemerintah de facto Afghanistan, telah berulang kali berjanji untuk memberikan pemerintahan yang “inklusif”.

Komunitas internasional menyambut janji ini dengan kecurigaan yang mendalam. Namun di Indonesia, beberapa pemimpin politik dan elit Islam tampaknya menganggap serius janji ini.

Baca Juga: Awas, Anis Matta Beber 3 Tantangan Besar yang Bakal Dihadapi Taliban

Bahkan mengabaikan sejumlah kecil ekstremis yang merayakan kemenangan Taliban sebagai kemenangan melawan barat dalam “benturan peradaban”, ada banyak tokoh arus utama yang mengungkapkan pandangan yang agak penuh harapan tentang masa depan proyek pembangunan negara Taliban.

Tidak diragukan lagi, suara simpati yang paling menonjol untuk Taliban adalah Jusuf Kalla. Mantan wakil presiden itu memiliki sejarah dialog dengan para pemimpin kelompok itu, termasuk menengahi beberapa putaran pembicaraan damai antara Taliban dan pemerintahan Ashraf Ghani yang sekarang digulingkan.

Diplomasi Kalla dengan Taliban memuncak dalam kunjungan informal delegasi Taliban ke Jakarta pada 2019. Delegasi yang dipimpin oleh tokoh senior Taliban Abdul Ghani Baradar mengunjungi kantor Nahdlatul Ulama (NU) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sejak Taliban kembali berkuasa, Kalla sibuk muncul di media untuk meyakinkan publik bahwa kali ini Taliban berbeda. Ini tampaknya merupakan perkembangan alami dari posisinya sebelumnya, yang memandang organisasi militan sebagai mitra yang sah dalam dialog.

Klaim tentang “moderasi” Taliban bukanlah hal baru, dan juga telah diungkapkan oleh rekan Kalla. Salah satu contohnya adalah Muhammad Zaitun Rasmin, wakil sekretaris jenderal MUI dan pemimpin organisasi Salafi Wahdah Islamiyah, yang bergabung dengan Kalla dalam pertemuan dengan Taliban pada 2019.

Rasmin memuji para pemimpin Taliban, mencatat bahwa mereka terkesan dengan sistem Indonesia yang menyalurkan aspirasi politik Islam melalui politik formal. Pernyataannya menunjukkan bahwa Taliban memiliki kapasitas dan kemauan untuk mengubah gaya pemerintahannya, dengan belajar dari kasus “sukses” Indonesia. Kalla mengulangi pandangan tentang antusiasme Taliban untuk belajar dari Indonesia dalam wawancara baru-baru ini.

Selanjutnya
Halaman

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini