Haru Biru Perjuangan Ayah Hermanto Tanoko, Kini Jadikan Anaknya Konglomerat Sukses!

Haru Biru Perjuangan Ayah Hermanto Tanoko, Kini Jadikan Anaknya Konglomerat Sukses! Kredit Foto: Instagram/htanoko

Akhirnya, Hermanto keliling ke apotek yang ramai hingga ia bertekad untuk menjadikan apotek yang dikelolanya menjadi apotek No. 1 di Malang.

Dengan berkeliling mempelajari apotek-apotek yang ramai, Hermanto mencatat berapa margin yang dan keuntungan yang didapat dari setiap obat. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk meminta tambahan modal dari sang ayah agar bisa membeli obat secara cash.

Saat itu, membeli obat secara cash bisa mendapat diskon 15-20% dari PBF (Pabrik Besar Farmasi) pada tahun 1976. Dari diskon itulah Hermanto mendapatkan untung dan menjual obat dengan harga murah dan gratis ongkos kirim bagi resep yang obatnya kosong agar bisa dicarikan dahulu.

Tak butuh waktu lama, dalam kurang dari satu tahun, apotek tersebut ramai sekali hingga Hermanto menggambarkan bahwa ia tidak bisa duduk saking ramainya.

Selain itu, demi kenyamanan pelanggan, obat-obatan juga akan diantar jemput gratis. Hermanto mengelola apotek itu selama enam tahun sampai akhirnya menikah.

"Saya hal obat apapun tanpa melihat kartu stock, padahal ribuan," ujarnya.

Setelah menikah, pada tahun 1978, Hermanto diajak papanya membantu di pabrik cat. Saat itu papanya baru saja membeli pabrik cat dengan 18 karyawan di Sidoarjo.

Hari pertama bekerja yakni 1 November, terjadi devaluasi. Sehingga nilai pabrik yang baru dibeli ini menurun. Tetapi, papa Hermanto Tanoko sangat ulet dan pekerja keras. Meski memiliki mobil sedan, papa Hermanto Tanoko naik bis sejak jam 5 pagi, pulang jam 7 malam sehingga selalu membawa makan pagi, siang, malam.

Padahal saat itu, papa Hermanto sudah pindah rumah lagi ke komplek elit yang lebih besar. Bahkan, mamanya tidak lagi membuka toko kelontong.

"Rumah besar, punya mobil, punya pabrik, tapi papa kerja pakai bis," ujar Hermanto.

Selanjutnya
Halaman

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini