Intip Strategi Jabar Cegah Aksi Terorisme dan Radikalisme di Indonesia

Intip Strategi Jabar Cegah Aksi Terorisme dan Radikalisme di Indonesia Kredit Foto: Rahmat Saepulloh

Menurutnya, fenomena radikalisme dan terorisme di Indonesia harus disikapi sebagai wake up call untuk menyadarkan seluruh komponen bangsa termasuk pelajar untuk melakukan konsolidasi diri dengan memperkuat basis sistem deteksi dini dan peringatan dini. Pasalnya, radikalisme dan terorisme terus memperkuat basis wilayah dan kaderisasi.

“Untuk itulah pelajar juga perlu memahami regulasi/perundang-undangan/ikut serta dalam kontra radikalisasi,” ujarnya.

Iip menyebutkan, faktor yang memotivasi seseorang untuk bergabung dengan jaringan terorisme, antara lain, masyarakat yang dicemari oleh paham fundamentalisme ekstrim atau radikalisme keagamaan.

Faktor kultural yaitu pemahaman keagamaan yang dangkal danoenafsiran kitab suci yang sempit dan tekstualistik. 

Kemudian, faktor domestik akibat kemiskinan, ketidakadilan atau merasa kecewa dengan pemerintah. Faktor Internasional ketidakadilan global, politik luar negeri yang arogan, dan imperialisme modern negara adidaya.

Untuk itu, Badan Kesbangpol Jabar melakukan strategi pencegahan terorisme yaitu secara kontra radikalisasi dan deradikalisasi.

"Kontra radikalisasi merupakan strategi upaya mencegah dan menangkal paham radikal agar tidak mempengaruhi masyarakat. Sasarannya, masyarakat yang belum mengenal paham radikal terorisme," ungkapnya.

Selain itu, kontra deradikalisasi merupakan strategi dalam upaya sistematis dengan pendekatan multidisipliner dalam rangka mentransformasikan ideologi radikal menuju pemahaman yang moderat, terbuka dan toleransi.

"Sasaran kontra deradikalisasi yaitu mereka yang sudah terpapar paham radikal meliputi, narapidana terorisme, mantan teroris, keluarga, jaringannya hingga masyarakat yang berpotensi menjadi radikal," pungkasnya.

Tampilkan Semua
Halaman

Berita Terkait

Video Pilihan

Terpopuler

Terkini