Pengamat Politik Arab Saudi Ramalkan Iran Tetap Berada di Jalan Garis Keras, Ini Buktinya!

Pengamat Politik Arab Saudi Ramalkan Iran Tetap Berada di Jalan Garis Keras, Ini Buktinya! Kredit Foto: Reuters/Wana News Agency

Pengamat politik Arab Saudi Abdulrahman Rashed menulis kemenangan Ebrahim Raisi dalam pemilihan presiden Iran akan membuat negara itu tetap di jalur garis keras. Hal itu disampaikan dalam artikelnya dipublikasikan surat kabar milik pemerintah Arab Saudi Asharq al-Awsat.

Sejauh ini, Arab Saudi masih bungkam dengan kemenangan garis keras dalam pemilihan presiden Iran. Tapi sebagian besar negara Arab Teluk termasuk Uni Emirat Arab yang juga berselisih dengan Iran sudah menyampaikan ucapan selamat pada Raisi, sekutu Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Baca Juga: Mengenal Ebrahim Raisi, Seorang Jaksa yang Bakal Jadi Presiden Iran Selanjutnya

"Setelah Ebrahim Raisi menang kami tidak berharap ada perubahan penting dalam kebijakan luar negeri karena kekuasaan jatuh ke pemimpin tertinggi dan kesepakatan (nuklir) yang dinegosiasikan tim (presiden pejawat Hassan) Rouhani di Vienna akan tetap berjalan," tulis Rashed, Senin (21/6/2021).

Riyadh dan sekutu-sekutunya menentang perundingan tak langsung antara kekuataan-kekuataan besar dunia dengan Iran mengenai kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) tidak turut membahas program nuklir Iran dan dukungan Teheran pada proksi di seluruh kawasan Timur Tengah.

Pengamat mengatakan progres perundingan di Vienna tergantung pada pembicaraan tak langsung antara Riyadh dan Teheran yang digelar bulan April lalu. Pembicaraan tak langsung itu dilakukan untuk menahan ketegangan yang memanas karena serangan ke kilang minyak Arab Saudi pada tahun 2019 lalu.

"Rekonsiliasi dengan Iran mungkin terjadi tapi dengan kerangka kerja politik yang pragmatis, bahasa moderasi dan setara satu-satunya bahasa yang dapat menahan Iran," tulis kolumnis Arab Saudi, Ali al-Kheshaiban dalam opininya di surat kabar Al Riyadh.

Pada bulan April lalu Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman mengatakan ia ingin memiliki hubungan baik dengan Teheran.

Ia mengadopsi nada yang lebih hangat untuk menyeimbangkan antara permusuhan lama dengan pertimbangan ekonomi dan menjembatani perbedaan dengan Washington mengenai bagaimana menghadapi perilaku Teheran di kawasan.

Presiden AS Joe Biden yang ingin Iran menghentikan program nuklir dan dukungan ke proksi-proksi di Timur Tengah telah menarik dukungan ke koalisi Arab Saudi di Yaman, Koalisi itu berperang melawan kelompok Houthi yang didukung Iran.

Pengamat politik Arab Saudi lainnya Khaled Suleiman menulis di surat kabar Okaz, Washington 'memberikan pipinya' ke Iran. Menurutnya, AS seharusnya tidak memberikan 'konsesi gratis' yang membuat Iran berani. 

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini