Salut! Gara-Gara Ini Pertamina Diklaim Lebih Baik Dibanding Perusahaan Migas Dunia

Salut! Gara-Gara Ini Pertamina Diklaim Lebih Baik Dibanding Perusahaan Migas Dunia Kredit Foto: Antara/Arif Firmansyah

Kesuksesan PT Pertamina (Persero) membukukan laba bersih hingga Rp15 triliun di sepanjang tahun 2020 lalu terus memantik apresiasi. Kali ini pujian datang dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), yang menganggap bahwa capaian Pertamina tersebut spesial lantaran dibukukan saat perekonomian dunia secara umum masih tertekan oleh pandemi COVID19. “Dalam situasi pandemi, banyak perusahaan migas dunia yang mengalami kerugian besar. Tidak sedikit yang bahkan sampai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Tapi Pertamina sama sekali tidak (ada PHK). Dia bisa keluar dari zona keterpurukan, sehingga bisa dibilang manajemen keuangan Pertamina lebih baik disbanding perusahaan-perusahaan migas multinasional itu,” ujar Peneliti AEPI, Salamuddin Daeng, Kamis (17/6).

Masalah pengurangan karyawan, menurut Salamuddin, memang selama ini menjadi momok lain di perusahaan migas selain ancaman kerugian usaha. Karenanya, Salamuddin mengapresiasi komitmen manajemen Pertamina untuk tetap tidak mengambil opsi PHK sebagai bagian dari upaya efisiensi yang dilakukan guna menghadapi tekanan pandemi. Meski demikian, tanpa adanya PHK, Pertamina terbukti mampu menekan beban perusahaan hingga US$12,1 miliar atau sekitar Rp175,5 triliun. “Jadi kemampuan mereka (Pertamina) menurunkan beban usaha ini memang luar biasa. Terlebih sebenarnya secara pendapatan kan ada penurunan sekitar US$13,3 miliar, yaitu dari US$54,7 miliar di 2019 jadi US$41,4 miliar di 2020 kemarin. Kalau bukan Pertamina, kehilangan 25 persen pendapatan dengan nilai sampai ratusan triliun itu pasti sudah akan membuat perusahaan manapun gulung tikar,” tutur Salamuddin.

Sebagaimana diketahui, di sepanjang tahun 2020 lalu memang cukup banyak perusahaan migas dunia yang mengalami kerugian. Sebut saja Shell yang merugi hingga US$21,68 Miliar, BP yang rugi US$20,31 Miliiar dan Exxon Mobil yang mengalami kerugian hingga US$22,44 Miliar. Lalu Totaljuga mengalami kerugian sampai US$7,24 Miliar, Chevron yang rugi hingga US$5,5 Miliar, ENI dengan kerugian US$9,53 Miliar, dan Petronas dengan kerugian mencapai US$5,54 Miliar. Bahkan kerugian BP, merupakan yang terparah dalam 10 tahun terakhir. “Kesuksesan Pertamina ini perlu kita apresiasi agar bisa jadi contoh untuk (perusahaan) yang lain. Termasuk juga untuk BUMN-BUMN lain. Tidak masalah ada penurunan penjualan sebesar apapun. Yang penting, kemampuan mereka menurunkan beban biaya harus lebih besar dari (penurunan) itu,” tegas Salamuddin.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini