Anggota Parlemen Rusia Sayangkan Bank Sentral Abaikan Kripto

Anggota Parlemen Rusia Sayangkan Bank Sentral Abaikan Kripto Kredit Foto: Unsplash/Executium

Seorang anggota Duma Negara Rusia telah mengecam sikap keras bank sentral terhadap industri cryptocurrency karena mengabaikan meningkatnya permintaan untuk crypto di negara tersebut.

Fedot Tumusov, anggota partai “A Just Russia” yang mewakili wilayah Siberia di Yakutsk, telah mengkritik pendekatan Bank Rusia untuk mengatur industri crypto setelah pertemuan pleno Duma Negara pada hari Selasa.

Baca Juga: Gubernur BI Larang Lembaga Layani Transaksi Kripto

Dalam posting Telegram hari Selasa, Tumusov menguraikan kebutuhan yang berkembang untuk menciptakan ekosistem yang memungkinkan penduduk Rusia untuk membeli cryptocurrency seperti Bitcoin (BTC) di tengah meningkatnya permintaan. Pejabat itu berpendapat bahwa meskipun Rusia memberlakukan undang-undang kripto awal tahun ini, Bank Rusia telah lalai, menolak untuk mengizinkan bank lokal untuk menawarkan layanan investasi kripto.

Tumusov mengatakan bahwa gubernur bank sentral Elvira Nabiullina telah berbicara secara terbuka tentang keengganan bank untuk berurusan dengan cryptocurrency terdesentralisasi, dengan fokus pada rubel digital yang dikendalikan negara.

“Keengganan atau tidak, ini tidak akan mengubah situasi. Penting untuk tidak melawan kenyataan tetapi lebih untuk menyesuaikannya, untuk menanggapi tantangan waktu,” bantah Tumusov dikutip dari Cointelegraph, Rabu (16/6/2021).

Anggota parlemen mencatat bahwa banyak negara di seluruh dunia menawarkan undang-undang dan kebijakan pajak yang jelas yang memungkinkan industri untuk berkembang. Dia menyatakan bahwa Rusia membutuhkan metode untuk menangani crypto yang bukan hanya larangan.

“Rabun jauh bisa mahal bagi Rusia. Cryptocurrency adalah kenyataan. Entah kita akan menerimanya, atau kita akan kalah,” katanya.

Pernyataan Tumusov tentang crypto datang tak lama setelah laporan mengkonfirmasi bahwa bank-bank besar Rusia seperti bank swasta Tinkoff tidak dapat menawarkan layanan crypto karena sikap keras Bank Rusia terhadap aset digital.

Sementara itu, bank komersial yang didukung negara seperti Sberbank dan VTB sebagian besar mengkritik industri ini, mengklaim bahwa mereka tidak menyukai Bitcoin karena terlalu berisiko.

Sementara bank-bank Rusia ragu-ragu untuk terjun ke aset digital, perusahaan crypto besar seperti Binance telah hadir di negara tersebut. Menurut laporan Juni oleh perusahaan intelijen crypto Chainalysis, Rusia berada di peringkat negara terbesar kelima di dunia menurut perkiraan perolehan Bitcoin yang direalisasikan pada tahun 2020, mengikuti Amerika Serikat, Cina, Jepang, dan Inggris.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini