Ciptakan Efisiensi, Tenaga Surya Kian Dilirik

Ciptakan Efisiensi, Tenaga Surya Kian Dilirik Kredit Foto: Kementerian ESDM

Pemerintah terus memacu pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Langkah ini adalah upaya untuk memenuhi target bauran energi baru dan terbarukan (EBT) mencapai 23% di tahun 2025.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Chrisnawan Anditya, mengatakan bahwa sinergitas diperlukan tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga dari partisipasi masyarakat untuk membentuk ekosistem yang baik guna mencapai target 23% pada tahun 2025.

Baca Juga: Riset Eaton: Indonesia Memimpin Perluasan Target Bauran EBT di Asia Pasifik

"Saya berharap Indonesia ke depannya bisa menjadi lebih ambisius menuju net zero emission seperti negara maju lainnya," kata Chrisnawan di Jakarta, Kamis (3/6/2021) lalu.

Potensi penggunaan pembangkit EBT khususnya tenaga surya kian berkembang di Indonesia. Sampai dengan Maret 2021, kata Chrisnawan, jumlah pelanggan yang telah memasang PLTS Atap mencapai 3.472 pelanggan dan telah terpasang kapasitas sebesar 26.51 mw (megawatt).

"Salah satu upaya menghasilkan produk global dengan skema Renewable Energy Based Industrial Development (REBID), yaitu mendorong pertumbuhan industri hijau untuk pemanfaatan energi baru terbarukan dalam skala besar," ucapnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian Hendro Martono mengatakan, sektor industri merupakan salah satu konsumen energi terbesar. Pada tahun 2019, total konsumsi energi sektor industri Indonesia sebesar 2,382,594 terajoule atau setara dengan 36,64% dari total konsumsi nasional.

"Potensi energi surya per tahun di Indonesia mencapai 532.6 gwp dan kapasitas produksi nasional adalah 515 mwp. Namun, total kapasitas PLTS di Indonesia sendiri masih kecil yaitu 25 mwp," imbuh Hendro.

Head of Marketing SUN Energy, Anggita Pradipta, menambahkan, pemerintah memang sangat serius menjadikan energi surya sebagai tonggak utama pene rapan energi bersih dan terjangkau. Hal ini tampak dari kebijakan-kebijakan pemerintah dalam mempermudah pemanfaatan energi surya untuk perumahan, perkantoran, maupun pabrik-pabrik di kawasan industri.

"Banyak industri ingin berpartisipasi menyukseskan komitmen pemerintah dalam menciptakan energi bersih di industrinya. SUN Energy hadir dengan menawarkan pembangunan PLTS tanpa industri tersebut mengeluarkan biaya di awal," kata Anggita.

Penawaran ini, kata Anggita, tentu saja diharapkan dapat meringankan bagi industri dalam penghematan pengeluaran. "Selain menciptakan lingkungan hijau di kawasan industri, hal yang penting juga adalah penggunaan PLTS juga akan menghemat pengeluaran penggunaan listrik sebesar 10%-30%," pungkasnya.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini