Bye-Bye Tekor! Krakatau Steel Babat Habis Rugi, Akhirnya Cuan!

Bye-Bye Tekor! Krakatau Steel Babat Habis Rugi, Akhirnya Cuan! Kredit Foto: Sufri Yuliardi

PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) berhasil melepaskan diri dari jeratan kerugian sepanjang tahun 2020. Manajemen melaporkan, rugi sebesar US$503,66 juta pada Desember 2019 berbalik menjadi laba bersih sebesar US$23,68 juta pada Desember 2020.

Merujuk ke laporan keuangan perusahaan, capaian laba tersebut terjadi meskipun pendapatan Krakatau Steel mengalami koreksi. Secara tahunan, pendapatan emiten baja ini turun 4,93% dari US$1,42 miliar pada akhir 2019 menjadi hanya US$1,35 miliar pada akhir 2020. Penjualan baja di pasar lokal menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan Krakatau Steel, di mana angkanya stabil di US$1,-4 miliar secara tahun ke tahun (yoy). Sementara pendapatan baja di pasar ekspor menurun dari US$132,26 juta pada 2019 menjadi US$80,81 juta. Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, 25 Mei 2021: Ngegas Lawan Mata Uang Asia dan Dunia!

Lebih lanjut, Krakatau Steel mengantongi pendapatan jasa pengeloaan pelabuhan sebesar US$77,82 juta pada tahun 2020, sedikit lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang hanya US$76,10 juta. Kemudian, Krakatau Steel menerima pendapatan dari penjualan listrik sebesar US$38,17 juta, rekayasa dan konstruksi sebesar US$29,52 juta, real estate dan perhotelan sebesar US$23,18 juta, dan lainnya sebesar US$40,82 juta. Baca Juga: Oups! Bos Lippo John Riady Jual Hampir Semua Saham di Siloam Hospitals, Ada Apa Gerangan?

Meski pendapatan turun, Krakatau Steel dapat mencetak laba karena beban pokok pendapatan yang mampu ditekan hingga 13,57% dari US$1,40 miliar pada 2019 menjadi US$1,21 miliar pada 2020. Selain itu, kinerja keuangan perusahaan juga membaik setelah rugi operasi yang tahun 2019 mencapai US$448,76 juta dapat berbalik menjadi laba operasi sebesar US$166,65 juta pada tahun 2020.

"Tahun 2020 merupakan tahun yang menantang bagi Krakatau Steel. Di tengah proses transformasi yang telah menunjukkan hasil positif di triwulan I 2020, pandemi Covid-19 memberikan pengaruh negatif terhadap industri secara keseluruhan, termasuk bisnis perusahaan," pungkas manajemen, Selasa, 25 Mei 2021.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini