Tak Terlibat Langsung, Tapi Percaya Sawit Bukan Penyumbang Emisi Gas

Tak Terlibat Langsung, Tapi Percaya Sawit Bukan Penyumbang Emisi Gas Kredit Foto: Antara/Aswaddy Hamid

Indonesia dalam konferensi di Perancis telah menetapkan akan mengurangi emisi karbon sebanyak 29 persen pada tahun 2030 mendatang. Sebagai komoditas unggulan, kelapa sawit memiliki potensi kontribusi besar untuk mengurangi emisi gas tersebut.

Potensi tersebut sekaligus menjadi bukti untuk mematahkan isu negatif terkait tuduhan bahwa sawit merupakan penyumbang emisi gas terbesar untuk dunia. Terkait isu ini, Mantan Ketua Harian Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), Rachmat Witoelar mengatakan, sebaiknya pihak antisawit bisa melihat langsung proses produksi dan kondisi perkebunan kelapa sawit, sehingga informasi yang simpang siur bisa diluruskan.

Baca Juga: Sawit, Ranking 3 Penyumbang Surplus Sektor Nonmigas Indonesia

“Sebab masih ada anggapan sawit diperluas dengan cara memotong hutan,” ungkap Rachmat seperti dikutip dari InfoSAWIT. 

Menurut Rachmat, untuk menghapuskan isu negatif yang selama ini dituduhkan terhadap kelapa sawit, terdapat lima hal yang perlu diperhatikan oleh pelaku industri perkebunan. Pertama, guna menjawab secara substansial terkait tuduhan, perlu diberikan informasi bahwa sawit tidak berkontribusi pada peningkatan emisi karbon.

Kedua, produsen kelapa sawit didorong untuk menerapkan intensifikasi daripada ekstensifikasi. Ketiga, industri kelapa sawit diyakini telah menjadi tulang punggung ekonomi bangsa. Keempat, perlu ditekankan bahwa kelapa sawit memberikan manfaat langsung terhadap masyarakat sekitar kebun. Kelima, penerapan High Carbon Stock (HCS). 

Meluruskan persepsi tentang kelapa sawitpun dianggap sebagai agenda penting, bahkan Rachmat menantang pelaku sawit untuk bisa mengundang para penolak sawit dan wartawan ke kebun.

"Kalaupun saya simpati tidak bisa juga saya bilang gini gitu, atau sebaliknya. Kalau mereka berani, mereka bisa undang wartawan atau perwakilan negara barat ke kebun gitu,” pungkas Rachmat. 

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini