Spesialis Militer Bilang Pengeluaran Besar-besaran Angkatan Bersenjata Amerika Perbesar Potensi...

Spesialis Militer Bilang Pengeluaran Besar-besaran Angkatan Bersenjata Amerika Perbesar Potensi... Kredit Foto: US Air Force

Pakar militer Rusia menyebut pengeluaran militer Amerika Serikat (AS) yang besar merupakan indikasi penting dari upaya Washington untuk menerapkan kebijakan luar negeri yang agresif. Ini juga, menurut pakar itu, menyebabkan ketidakstabilan dan kekacauan di seluruh dunia.

Igor Korotchenko menuturkan, AS mempertahankan sejumlah besar pangkalan militer di seluruh dunia dan mengerahkan banyak pasukan serang kapal induk, yang keduanya membutuhkan biaya yang sesuai.

Baca Juga: Kisah Orang Terkaya: Tom Love, Mantan Militer yang Jadi Orang Terkaya di AS

Korotchenko menuturkan, bahwa AS juga mencoba untuk memperluas pengaruh militernya di benua tertentu dan melakukan program yang sangat mahal, yang dirancang untuk putaran baru perlombaan senjata, khususnya di luar angkasa, yang juga mahal.

"Oleh karena itu, pengeluaran militer AS mencerminkan struktur angkatan bersenjata AS dan tugas-tugas yang dipercayakan kepada mereka,” ujarnya seperti dilansir Xinhua.

"Anggaran militer AS adalah bahan bakar untuk ketidakstabilan dan kekacauan di planet kita," sambung pria yang juga merupakan Dewan Publik di bawah Kementerian Pertahanan Rusia.

Menanggapi tuduhan Barat bahwa belanja militer China telah tumbuh terlalu cepat, Korotchenko mencatat, bahwa tidak seperti AS, pertumbuhan belanja militer China tidak terkait dengan ekspansi militer.

"China tidak mengejar ekspansi militer. Program militernya umumnya bersifat defensif. Oleh karena itu, pengeluaran militer China mencerminkan struktur tentara China dan tugas di bidang memastikan keamanan eksternal," ujarnya.

Selain itu, Korotchenko menggarisbawahi bahwa peningkatan pengeluaran militer China sejalan dengan perkembangan ekonomi China dan bahwa perkembangan ekonomi Beijing yang stabil memberikan jaminan finansial untuk memperbaiki kondisi tentara China.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini