Minim Informasi Sebabkan Banyak Masyarakat Enggan Divaksin

Minim Informasi Sebabkan Banyak Masyarakat Enggan Divaksin Kredit Foto: Rahmat Saepulloh

Pada awal tahun 2021 pemerintah Indonesia telah melaksanakan program vaksin Covid-19. Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang disuntik vaksin Sinovac, Rabu, 13 Januari 2021. Hal itu menandai dimulainya proses vaksinasi Covid-19 di Indonesia pada tahap pertama, yaitu pada golongan orang-orang yang mendapatkan prioritas. 

Vaksinasi Covid-19 di Indonesia mulai dilaksanakan setelah vaksin Covid-19 Sinovac mendapatkan izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Baca Juga: WHO Masukkan Vaksin Sinopharm ke Daftar Penggunaan Darurat, Percepat Akses Vaksin

Pemerintah terus bergerak cepat untuk melakukan program vaksinasi massal sebagai salah satu upaya untuk mengendalikan pandemi Covid-19. Namun program vaksinasi tersebut menimbulkan polemik pro dan kontra di masyarakat, sebab ada sebagian masyarakat setuju dan mempertimbangkan vaksin sebagai solusi untuk menyelesaikan pandemi, sementara yang lain masih meragukan kualitas vaksin yang dipilih oleh pemerintah Indonesia.

Melalui survei bertajuk What Indonesians Say About COVID-19 Vaccination, Jajak Pendapat (Jakpat) ingin mengetahui kesadaran responden tentang vaksinasi Covid-19 di Indonesia. Dalam laporan Jakpat, riset menunjukan 90% responden menyadari dan mengetahui merek vaksin covid-19 serta dapat menyebutkan merek Vaksin Covid-19 tersebut.

Berdasarkan profil demografis, pemisahan Sosial Ekonomi Status (SES) atas cenderung memiliki awareness yang lebih tinggi terhadap vaksin daripada segmen menengah ke bawah. Adapun berdasarkan usia, segmen yang lebih muda memiliki kesadaran yang lebih sedikit terhadap vaksin Covid-19 daripada segmen lainnya.

"Meskipun demikian, keraguan terhadap vaksin Covid-19 cukup tinggi. 28,1% dari mereka bersedia divaksinasi dengan nama-nama vaksin tertentu, dan 27,7% dari mereka tidak mau divaksinasi," termaktub dalam laporan Jakpat, Jumat (7/5/2021).

Berdasarkan profil responden, segmen SES menengah ke bawah cenderung diam atau abai terhadap vaksin. Keraguan tentang vaksin sejalan dengan kurangnya informasi.

"Sekitar 55,1% responden yang tidak tahu nama vaksin memiliki ketidaksediaan untuk divaksinasi. Sementara 49,2% dari mereka yang telah mengetahui tentang vaksin cenderung bersedia," dinukil dalam laporan Jakpat.

Adapun, Sinovac adalah vaksin paling terkenal di antara responden mencapai 65,9%, tetapi itu tidak menjadikannya sebagai vaksin tepercaya untuk responden. Selain itu, Vaksin GOVAX/GAVI adalah yang paling dihindari oleh responden. 27% dari responden mengklaim memiliki tidak ada pengetahuan tentang vaksin tersebut, ini menyiratkan kurangnya informasi akan vaksin tertentu.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi telah memberikan jaminan untuk seluruh elemen masyarakat yang akan divaksinasi oleh negara. Namun, hanya 53,0% responden yang memahami bahwa vaksin tersebut gratis untuk seluruh warga negara Indonesia. Kurangnya informasi yang dalam terkait kesediaan warga untuk mendapatkan vaksinasi. Sekitar 56,0% responden tidak ingin divaksinasi disebabkan tidak memiliki informasi terhadap vaksin itu sendiri.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini