Perusahaan Milik Konglomerat Kiki Barki Panen Durian Runtuh, Keuntungan Melonjak 2.000% Lebih!

Perusahaan Milik Konglomerat Kiki Barki Panen Durian Runtuh, Keuntungan Melonjak 2.000% Lebih! Kredit Foto: Forbes

Keuntungan PT Harum Energy Tbk (HRUM) mengalami lonjakan drastis pada periode awal tahun ini. Dalam tiga bulan pertama tahun 2021, laba bersih emiten tambang milik konglomerat Kiki Barki ini mencapai US$17,61 juta. Nilai tersebut setara dengan kenaikan 2.004,37% dari laba bersih Harum Energy pada awal tahun 2020 lalu yang hanya US$821,38 ribu.

Merujuk ke laporan keuangan perusahaan, lonjakan laba tersebut tidak sejalan dengan performa pendapatan Harum Energy yang justru terpangkas. Per Maret 2021, pendapatan Harum Energy mencapai US$57,08 juta atau 6,72% lebih rendah dari pendapatan per Maret 2020 lalu yang tercatat sebesar US$61,19 juta.  Baca Juga: Rezeki Nomplok di Depan Mata! Perusahaan Konglomerat Djoko Susanto Sebar Cuan Ratusan Miliar Rupiah!

Pendapatan kontrak dengan pelanggan memberi kontribusi paling besar bagi Harum Energy, di mana angkanya menurun dari US$57,52 juta pada Q120 menjadi US$53,60 juta pada Q121. Pada saat yang sama, pendapatan sewa juga memberi sumbangsih yang lebih rendah, yakni awalnya US$3,67 juta per Maret 2020 menjadi hanya US$3,48 juta per Maret 2021.  Baca Juga: Asing Gotong Royong Bangkitkan Unilever dari Kubur, Akhirnyaaa!

Kendati demikian, laba bersih Harum Energy dapat melonjak signifikan karena ditopang oleh pendapatan lainnya, di mana angkanya bertumbuh dari US$93,60 ribu pada awal tahun lalu menjadi US$9,27 juta pada awal tahun ini. Bukan cuma itu, Harum Energy juga berhasil menekan beban lainnya dari US$5 juta menjadi US$113,04 ribu. 

Sampai dengan periode yang berakhir Maret 2021, aset Harum Energy tercatat sebesar US$595,26 juta. Nilai tersebut meningkat dari aset Harum Energy pada Maret 2020 lalu yang hanya US$498,70 juta. Total liabilitas jangka pendek yang ditanggung Harum Energy melonjak dari SU$24,76 juta menjadi US$32,04 juta. Begitu pun dengan total liabilitas jangka panjang, di mana angkanya naik dari US$19,14 juta menjadi US$86,74 juta.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini