Senggol India, Partai Komunis China Dituduh Manfaatkan Situasi Demi Hal Ini

Senggol India, Partai Komunis China Dituduh Manfaatkan Situasi Demi Hal Ini Kredit Foto: Asia News

Partai Komunis China (PKC) dituduh memanfaatkan "tsunami" infeksi COVID-19 di India untuk kampanye pencitraan jangka panjangnya dengan merendahkan negara-negara demokrasi. Tuduhan itu muncul dalam laporan baru dari German Marshall Fund.

"Bahkan setelah pemerintahan [Joe] Biden memberikan dukungannya kepada India, pesan yang didukung negara China terus menggambarkan bantuan AS sebagai di bawah standar, munafik, dan dimotivasi oleh kepentingan pribadi," tulis para peneliti dalam laporan German Marshall Fund.

Baca Juga: China Protes Sikap Negara-negara G7 yang Kontra Dengannya, Kenapa?

Laporan tersebut menyoroti beberapa posting media sosial dari pejabat pemerintah China dan media yang dikelola Partai Komunis yang mempromosikan bantuan China ke India dan menggambarkan Amerika Serikat pelitdalam hal vaksin dan bantuan. Kementerian Luar Negeri China memperkuat pesan itu selama konferensi pers hariannya.

"Semua sektor sosial di China sibuk mengambil tindakan," kata juru bicara Wang Wenbin pekan lalu. "Perusahaan China mencoba yang terbaik untuk mengumpulkan pasokan anti-epidemi yang sangat dibutuhkan oleh India, dan mengirimkannya kepada orang-orang India secepat mungkin."

Pemerintah China menyesuaikan pesannya untuk audiens tertentu, dengan pendekatan yang sangat berbeda untuk krisis COVID-19 India.

Untuk konsumsi domestik, media yang terkait Partai Komunis China mem-posting gambar roket China di sebelah foto tumpukan kayu kremasi India dengan frase "penyalaan China versus penyalaan India". Namun, media tersebut dengan cepat menghapus posting-annya.

"China memainkan permainan keseimbangan yang nyata," kata Jessica Brandt, kepala penelitian dan kebijakan di German Marshall Fund's Alliance for Securing Democracy, yang dilansir Fox News, Kamis (6/5/2021).

"Ini melukiskan tanggapan India terhadap krisis kesehatannya yang semakin dalam, misalnya, sebagai tidak berguna dan tidak efektif. Dan itu menggunakan gambar propaganda yang cukup menggelegar untuk melakukan itu. Dan kemudian kepada khalayak eksternal, ia menggambarkan dirinya sebagai teman baik bagi India," ujar Brandt.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini