Ada Pandemi, BI Yakin Transaksi Digital Banking Tembus Rp33 Ribu Triliun

Ada Pandemi, BI Yakin Transaksi Digital Banking Tembus Rp33 Ribu Triliun Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Bank Indonesia (BI) menyatakan transaksi ekonomi dan keuangan digital mengalami lonjakan signifikan di tengah pembatasan sosial selama Pandemi Covid-19. Meningkatnya transaksi tersebut membuat aktivitas ekonomi tetap berjalan meskipun masih terbatas.

"Alhamdulillah bahwa persepsi dan preferensi masyarakat, akseptasi masyarakat atas berbagai alat maupun metode pembayaran digital semakin luas dan itu kelihatan dari porsi maupun transaksi ekonomi keuangan digital yang meningkat," ujar Gubernur BI dalam webinar Digitalisasi Sistem Pembayaran di Indonesia sebagai Upaya Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional yang digelar Warta Ekonomi secara virtual di Jakarta, Rabu (5/5/2021).

Peningkatan ini, lanjut Perry, misalnya terlihat dari transaksi e-commerce yang tahun lalu mencapai Rp266 triliun dan tahun ini bisa tumbuh 39,1% mnjadi Rp370 triliun.

Baca Juga: BI: Transaksi Digital seperti Nasi Ketan

"Dan berbagai transaaki e-commerce menjadi pilihan masyarakat dan juga pengusaha bisa dukung dalam pemulihan ekonomi nasional," katanya.

Selain itu, transaksi uang elektronik pada tahun lalu mencpai Rp205 triliun dan tahun ini dprediksi dapat tumbuh 32,2% menjadi Rp271 triliun. Perry bilang, meningkatnya transaksi ini karena metode pembayaran menggunakan uang eletronik menjadi salah satu pilihan yang tidak hanya mudah tapi juga cepat dan aman.

Kemudian yang membanggakan adalah digital banking yang meliputi transfer, pembukaan rekening online, transaksi online banking, mobile banking dan sebagainya.

Tahun lalu, lanjut Perry, transaksi digital banking mencapai Rp27 ribu triliun dan tahun ini diprediksi tumbuh 21,8% menjadi Rp33 ribu triliun.

"Digital banking menjadi new normal di dalam ekonomi keuangan digital Indonesia. Jadi poinnya bahwa digital ekonomi dan keuangan, marketplace, uang elektronik, digital banking telah menjadi game changer dlm proses pemulihan ekonomi nasional," tutup Perry.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini