Duh, Lima Klaster Baru Muncul Gegara Abai Protokol Kesehatan

Duh, Lima Klaster Baru Muncul Gegara Abai Protokol Kesehatan Kredit Foto: Antara/Muhammad Iqbal

Kasus Covid-19 di Indonesia kembali merangkak naik di bulan Ramadan. Sejumlah klaster baru muncul. Pemicunya, kelalaian masyarakat menjalankan protokol kesehatan (prokes).

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, lima klaster Covid-19 yang muncul adalah klaster perkantoran, klaster bukber (buka puasa bersama), klaster tarawih di Banyumas, klaster mudik di Pati dan klaster takziah di Semarang.

Untuk klaster perkantoran, Pemerintah Provinsi DKI mencatat periode 5-11 April 2021 terdeteksi di 78 perkantoran dengan jumlah 157 kasus. Periode 12-18 April 2021 kasus Covid-19 ada di 177 perkantoran dengan jumlah 425 kasus positif Covid-19.

Kemudian, aktivitas buka puasa bersama, memiliki risiko besar penularan Covid-19.

Baca Juga: Jelang Lebaran, Kasus COVID-19 di Kota Malang Meningkat

“Pada prinsipnya, makan dan berbicara pada saat makan bersama menjadi faktor yang sangat memungkinkan terjadinya penularan virus,” tutur Nadia, kemarin.

Kemudian, klaster tarawih di Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, berasal dari seorang warga yang terinfeksi Covid-19, yang nekat melaksanakan ibadah salat tarawih tanpa memperhatikan prokes. Akibatnya, 51 orang terpapar virus tersebut.

Tidak mematuhi prokes dan mengabaikan kesehatan, menurut Nadia, menjadi biang kerok munculnya klaster tersebut.

“Tentunya, kelalaian kita dalam melaksanakan protokol kesehatan, terutama saat melaksanakan ibadah tarawih berjemaah,” tuturnya.

Demi keselamatan bersama, Nadia mengingatkan, ibadah selama bulan Ramadan tetap harus memperhatikan kesehatan pribadi masing-masing.

“Kita juga harus tahu, kalau dalam kondisi kesehatan yang kurang baik, ya sebaiknya tidak atau menunda sampai kita sehat untuk berangkat salat tarawih atau melakukan aktivitas bersama salat berjamaah lainnya,” tegasnya.

Sementara untuk klaster mudik di Pati, Jawa Tengah, ada 39 orang warga terkonfirmasi positif Covid-19 tertular dari salah satu orang yang baru mudik dari Jakarta. Mereka berasal dari Desa Kuryokalangan, Kecamatan Gabus, Kabupaten Pati.

Sementara, klaster takziah ditemukan di Kapanewon Panggang dan Kapanewon Playen. Tracing yang dilakukan Dinas Kesehatan Gunungkidul pada 19 April 2021, ada 37 orang positif Covid-19, dua di antaranya meninggal dunia.

“Tentunya ini sangat mengkhawatirkan kita karena kemungkinan superspreader terjadi pada klaster ini. Kita lihat jumlah orang yang positif dalam waktu yang singkat,” ujar Nadia.

Menurutnya, Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperlihatkan, dalam sepekan terakhir kasus konfirmasi harian naik meski masih dalam rentang normal.

Grafik kasus Covid-19 yang sebelumnya diupayakan turun dan memperlihatkan hasil dari Februari hingga Maret, pada akhir April 2021 kembali merangkak.

Biasanya, kata Nadia, jumlah kasus konfirmasi harian Indonesia di bawah 5.000. Angkanya berkisar 4-5 ribu.

“Namun, kemarin (29 April 2021) terjadi kenaikan 600 kasus dibandingkan hari sebelumnya,” keluhnya.

Pada 28 April 2021, penamba­han kasus harian tercatat 5.241. Sehari sesudahnya, dilaporkan kenaikan kasus sebesar 5.833.

Selain itu, Nadia juga mengingatkan, angka kematian meningkat 20 persen pekan ini. Begitu juga, dengan jumlah orang yang menjalani rawat inap di rumah sakit. “Terjadi kenaikan 1,28 persen,” imbuhnya.

Menurutnya, terdapat 14 provinsi dengan angka rawat inap pasien lebih dari 30 orang per 100 ribu penduduk dalam seminggu.

Ada pun 14 provinsi itu adalah Sumatera Utara, Riau, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Barat, Yogyakarta, Jambi, Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Bengkulu Papua Barat, Kalimantan Utara dan Kalimantan Tengah.

Peningkatan jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit terjadi pada ruang isolasi dan ruang perawatan.

Sementara, provinsi-provinsi yang mengalami kenaikan kasus, kata Nadia, merupakan daerah transit serta tujuan mudik.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini