Masya Allah, Berkat Doa dan Kerja Keras, Dulu Anak Pembantu, Witjaksono Kini Sukses Jadi Pengusaha!

Masya Allah, Berkat Doa dan Kerja Keras, Dulu Anak Pembantu, Witjaksono Kini Sukses Jadi Pengusaha! Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Sayangnya, perusahaan itu rugi. Setelah segala urusan selesai, Witjak pun memutuskan berhenti untuk berbisnis sendiri. Hingga suatu hari, Witjak berhasil membawa dua perusahaan listing di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sejak bekerja di bank, Witjak bertemu dengan banyak klien dari perusahaan-perusahaan besar. Beberapa perusahaan sering mengajak Witjak bergabung ke dalam perusahaannya. Hingga suatu hari, Witjak diajak bergabung ke dalam perusahaan pengemasan.

Namun, Witjak memberikan syarat yakni perusahaan ini harus besar hingga bergelar Tbk (perusahaan terbuka). Perusahaan itu memiliki anak perusahaan, dan anak perusahaan yang dipegang oleh Witjak cepat berkembang. Perusahaan itu pun akhirnya bernilai Rp100 miliar dari aset awal Rp10 miliar.

Saat itu, Witjak masih bekerja di bank. Pada saat yang sama, Witjak beserta 2 orang lainnya mendapat pengharagaan Best Achievement, tetapi hanya dua orang itu yang dipromosikan jabatannya, sementara Witjak tidak. Witjak tak terima, ia pun langsung mengajukan mundur dari bank tersebut.

Setelah itu, Witjak fokus mengurus dua perusahaan itu dan fokus membesarkan lewat akuisis. Hingga ketika dua perusahaan tersebut sama besarnya, mereka pun melakukan merger dan listing di BEI pada tahun 2014 dengan valuasi Rp1,7 triliun.

Witjak mengaku sudah menjalani beberapa bisnis sejak tahun 2005 sambil bekerja di bank. Di tahun itu pula, ada bisnisnya yang dikelola oleh seorang teman yaitu bisnis jual-beli ikan dari Pati ke Jakarta. Modal awalnya hanya Rp10 juta, hingga mendapat bantuan dana dari bank hingga miliaran. Perusahaan yang tadinya di Pati pun diboyong ke Jakarta karena Witjak memiliki kesan yang baik lantaran bisnis-bisnisnya yang lain.

Setelah pindah ke Jakarta, bantuan dana pun kembali diberikan kepada bank asing sebesar 5 juta dolar AS. Melalui uang tersebut, bisnis pun berkembang dari produksi awal 1.000 ton menjadi 4.000 ton sehingga perusahaan terus berkembang dan perusahaan ini kembali listing pada tahun 2015 dengan valuasi Rp2,4 triliun. Bahkan, valuasi perusahaan sempat mencapai Rp7 triliun.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Tampilkan Semua
Halaman

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini