Kisah Perusahaan Raksasa: Albertsons, Peritel No.2 di Amerika yang Dulang Cuan hingga 255 Persen

Kisah Perusahaan Raksasa: Albertsons, Peritel No.2 di Amerika yang Dulang Cuan hingga 255 Persen Kredit Foto: Getty Images

Albertsons Companies Inc adalah perusahaan grosir terkenal yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Dengan kantor pusatnya di Boise, Idaho, perusahaan ini menangani sejumlah produk seperti toko roti, susu, makanan beku, makanan laut, apotek, bahan makanan umum, daging, makanan ringan, dan minuman keras.

Perusahaan juga memiliki sejumlah besar supermarket untuk menjual produknya ke konsumen. Ritel terbesar kedua ini menempatkan namanya dalam daftar perusahaan raksasa, Global 500 yang dirilis Fortune.

Baca Juga: Kisah Perusahaan Raksasa: Marubeni, Konglomerat Perdagangan yang Lagi Terhuyung-huyung Jalani Bisnis

Dengan lebih dari 2.200 toko dan sekitar 270.000 karyawan, jumlahnya ini telah berkembang dalam beberapa bulan terakhir. Kekuatan finansial Albertsons juga sangat sehat dalam catatan Fortune tahun 2020. Pendapatan total (revenues) perusahaan mencapai angka 62,45 miliar dolar AS, naik 3,2 persen dari tahun 2019. 

Dengan kenaikan yang meroket hingga 255,8 persen, Albertsons sukses membukukan laba mencapai 466,4 juta dolar. Naik dari 131 juta dolar dari tahun 2019.

Aset yang dikelola perusahaan tembus 24,73 miliar dolar. Sementara total ekuitas sahamnya mencapai 2,27 miliar dolar, dengan nilai pasar mencapai 7,11 miliar dolar.

Jumlah terakhir telah berkembang dalam beberapa bulan terakhir karena perusahaan telah menyediakan staf untuk memenuhi lonjakan permintaan terkait Covid-19. Penjualan naik 34 persen dalam skala tahunan di bulan Maret dan April.

Berikut artikel ringkas perusahaan raksasa Albertsons yang ditulis Warta Ekonomi pada Rabu (28/4/2021). Simak selengkapnya pada tulisan di bawah ini.

Didirikan pada 1939 oleh Joe Albertson, Albertsons adalah salah satu toko sejenis di Idaho pada saat itu. Dengan beberapa fasilitas yang sangat berbeda yang tidak tersedia di tempat lain seperti kedai es krim terintegrasi, parkir gratis dan opsi uang kembali, toko tersebut kemudian menjadi terkenal di antara pelanggan lokal.

Popularitas toko tersebut mendatangkan banyak pelanggan dan banyak keuntungan, yang mendorong Joe untuk membuka toko serupa di kota-kota tetangga. Dia kemudian membuka toko baru di Nampa, Emmett dan Caldwell.

Setelah Perang Dunia II, perusahaan tumbuh dengan stabil. Pada 1959, perusahaan go public. Namun, tidak ada yang bisa menghentikan pertumbuhan perusahaan. Korporasi milik Joe ini kemudian membuka toko ke-100 di tahun 1964 di Seattle.

Untuk mengembangkan bisnisnya, Albertsons kemudian bermitra dengan sejumlah perusahaan dan bahkan mengakuisisi beberapanya. Perusahaan menjalin kemitraan dengan Skaggs Drug Center tahun 1969 dan kemudian membuka toko barunya yang menawarkan makanan dan obat-obatan kepada pelanggan. Namun kemitraan tersebut segera berakhir.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Selanjutnya
Halaman

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini