Tidak Hanya Ekonomi, Biomassa Sawit Juga Menyehatkan Lingkungan

Tidak Hanya Ekonomi, Biomassa Sawit Juga Menyehatkan Lingkungan Kredit Foto: Antara/Syifa Yulinnas

Bagi LSM antisawit, kehadiran perkebunan kelapa sawit dianggap menyebabkan kekeringan dan merusak unsur hara dalam tanah. Padahal, common sense sangat mudah memahami bahwa tanaman apapun di planet bumi ini berfungsi sebagai pelestarian lingkungan hidup, termasuk kelapa sawit.

Tidak ada seorangpun ahli atau teori yang mengatakan bahwa tumbuhan itu merusak lingkungan. Di Indonesia, kelapa sawit telah dikembangkan sejak tahun 1911 di Pulau Raja (Asahan, Sumatera Utara), Tanah Itam Ulu (Kab. Batubara, Sumatera Utara), dan Sei Liput (Aceh).

Baca Juga: Kemendag: Potensi Cangkang Sawit Indonesia Penuhi Kebutuhan Energi Jepang

“Sampai sekarang masih tetap kebun sawit dan tidak berubah menjadi gurun. Bahkan sebaliknya kebun sawit yang ada justru produktivitasnya semakin meningkat,” seperti dilansir dari laman Palm Oil Indonesia. 

Terkait fungsi pelestarian lingkungan, kelapa sawit dibekali volume biomassa yang meningkat seiring dengan umur tanamannya. Perlu diketahui, biomassa memegang peranan penting sebagai salah satu komponen penting pada kesuburan lahan.

Dalam laman Palm Oil Indonesia dituliskan, “selain dari penambahan biomas tersebut, untuk mempertahankan kesuburan lahan juga dilakukan penambahan kesuburan lahan melalui pemupukan sesuai dengan umur dan produktivitas tanaman”. Alhasil, kandungan biomassa yang meningkat bukan hanya terjadi pada biomassa di atas tanah, tetapi juga di dalam tanah melalui zona perakaran kelapa sawit. 

Sejumlah ahli mengemukakan, semakin tua umur kelapa sawit maka akan semakin meningkat bahan organik yang tersimpan di dalam biopori tanah. “Dengan demikian, jika bahan organik tetap dikembalikan ke tanah, kesuburan tanah perkebunan kelapa sawit tentu tidak mengalami penurunan,” seperti tercatat dalam laman Palm Oil Indonesia.

Selain itu, sistem pengelolaan perkebunan kelapa sawit dengan pemberian pupuk yang sesuai dengan good agricultural practices (GAP) dan didasarkan pada prinsip minimal mengganti hara yang terikut dalam TBS yang di panen, tidak mungkin mengakibatkan tanah di perkebunan sawit menjadi gurun.   

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini