KOL Stories x Dennis SLL: Mengenal Transaksi Marjin Andalan Investor Karena Tersengat Fenomena FOMO

KOL Stories x Dennis SLL: Mengenal Transaksi Marjin Andalan Investor Karena Tersengat Fenomena FOMO Kredit Foto: Instagram Dennis SLL

Fear of missing out (FOMO) atau dalam bahasa Indonesia "takut untuk ketinggalan" telah menjadi fenomena nyata yang menjadi makin umum dan dapat menyebabkan seseorang menjadi stres berat dalam hidupnya. Ini dapat memengaruhi hampir semua orang, tetapi beberapa orang memiliki risiko yang lebih besar.

Fenomena tersebut pun terjadi di pasar modal. FOMO biasanya dilakukan oleh para investor khususnya milenial yang merasa takut kehilangan peluang besar di pasar saham yang tengah tren saat ini. Fomo mungkin bukan barang baru lagi di pasar modal, mungkin banyak investor yang telah mengalaminya. 

Baca Juga: KOL Stories x Bernard Wijaya: Strategi Investasi di Era Pemulihan Ekonomi Pasca-Pandemi

Kejadian FOMO di pasar modal ini pun membuat transaksi marjin di BEI mengalami peningkatan yang luar biasa. Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan bahwa pembiayaan margin mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sejalan dengan tren kenaikan transaksi saham di bursa. Berdasarkan catatan BEI, transaksi marjin meningkat di rentang 8-10 persen tiap bulan yang dilakukan oleh investor ritel.

Sebagai gambaran, pada Januari 2021, transaksi pembiayaan marjin rata-rata per hari mencapai Rp1,3 triliun. Dengan angka rata-rata transaksi keseluruhan investor ritel ada di angka Rp14 triliun.

Untuk itu, Warta Ekonomi melalui program KOL Stories pun berinisiatif untuk membedah terakit dengan transaksi marjin yang kerap dilakukan oleh investor yang sudah tersengat serangan FOMO. Kali ini, KOL Stories mengundang Dennis SLL yang merupakan Founder sekaligus SMO dari Sekolah Saham Indonesia. 

Apa sih transaksi marjin itu? 

Transaksi marjin itu simpelnya seperti ini: ketika kita ingin membeli atau menjual saham, pasti kita menggunakan sekuritas atau marketplace-nya saham. Jadi, misalnya kita mau beli mie instan, pasti kita tidak akan membelinya langsung dari pabriknya, melainkan di swalayan terdekat. Sekuritas atau broker biasanya menyediakan fasilitas yang dinamakan marjin.

Marjin itu untuk apa? Jadi seperti ini: misalnya kita punya uang sebesar Rp10 juta. Ketika kita menggunakan marjin, kita bisa trading hingga 2 kali marjin atau Rp30 juta. Nah, sebenarnya sifatnya itu lebih ke meminjam uang dari sekuritas tersebut maka ada biaya atau fee yang dikenakan perhari atau pertahun. Memang keuntungan dari marjin itu besar, tapi risikonya pastinya juga lebih besar.   

Apa kekurangan dan kelebihan dari transaksi marjin?

Untuk trader yang lebih senior di capital market, pasti sudah mengerti pergerakan di pasar modal Indonesia seperti apa berdasarkan pengalaman lebih dari lima tahun. Jika orang sudah lama berada di pasar modal pasti sudah tahu risiko apa saja yang akan dihadapi ketika menggunakan marjin. Jadi untuk orang-orang yang sudah berpengalaman di pasar modal mungkin tidak masalah, justru marjin itu bisa membantu kita untuk mendapat profit yang lebih maksimal.

Tapi masalahnya, adalah untuk trader atau investor baru. Mereka tidak mengerti risiko apa jika menggunakan marjin. Akhirnya, bukannya untung tetapi malah terjerumus dan mengalami kerugian.

Untuk kelebihannya sendiri seperti ini. Misalnya jika kita mendapatkan suatu emiten menggunakan technical analysis dan tahu risk dan reward-nya maka kita bisa masuk ke trading plan ini karena bisa tahu jika reward-nya lebih besar daripada risk-nya. Misalnya, kita punya uang Rp10 juta, kita gunakan marjin maka akan bertambah menjadi Rp30 juta.

Kalau kita gunakan keuntungan 20 persen dari Rp10 juta mungkin hanya bertambah Rp2 juta, tetapi ketika menggunakan marjin dengan uang Rp30 juta maka akan menjadi Rp6 juta sehingga akan menjadi sangat besar. Tetapi jika kita rugi itu sama besarnya jika dikalikan dengan presentasenya. Jadi penggunaan marjin bagi pemula sangat tidak disarankan.

Risiko terburuk apa yang dapat dialami investor ketika menggunakan transaksi marjin?

Berbicara transaksi marjin juga jangan melupakan kalau kita akan dikenakan fee, seingat saya 0,2 persen dalam waktu satu hari. Jadi, misalnya dalam empat hari saja sudah kena 0,8 persen. Jadi, andaikan dalam empat hari ini sahamnya tidak naik atau tidak turun, kita sudah rugi duluan.

Walaupun 0,8 persen itu tergolong kecil, tapi kalau kita memasukkan uang dalam jumlah yang banyak akan menjadi lumayan. Berbeda dengan kita yang trading menggunakan uang pribadi dan tidak menggunakan marjin. Kalau misalnya kita beli Rp10 juta atau bahkan Rp100 juta, sahamnya tidak naik atau tidak turun dalam satu minggu ya tidak masalah, karena uang kita tidak akan berubah.

Tetapi jika kita menggunakan marjin maka kita akan dikenakan fee. Maka dari itu kurang cocok digunakan, apalagi untuk investasi jangka panjang. Tetapi untuk keperluan trading berbeda cerita, karena memang ada beberapa trader yang mungkin suka trading harian atau scalping dan marjin pun bisa mereka digunakan.

Adakah cara aman menggunakan transaksi marjin?

Kuncinya adalah kedisiplinan. Namun bagi orang yang belum terbiasa mungkin susah disiplin. Ada cara mudahnya. Biasanya di sekuritas-sekuritas biasanya sudah ada fitur yang dinamakan automatic order. Jadi, misalnya kita beli saham di harga seribu rupiah. Target profit adalah Rp1.200 alias 20 persen. Kemudian level stop loss kita di angka 900 atau 10 persen. Maka saat kita trading bisa mendapat potensi keuntungan sebesar 20 persen dan kerugian 10 persen, berarti masih 1:2. Kita bisa pasang automatic order.

Jika sahamnya turun di bawah 900 maka sahamnya otomatis akan terjual. Namun jika sahamnya naik sampai di atas 1.200 maka sahamnya juga otomatis terjual atau take profit. Maka dari itu, fitur automatic order bisa dipakai oleh trader pemula untuk melatih kedisiplinan kita.

Perkembangan pasar modal saat ini ikut meningkatkan pembiayaan transaksi marjin, bagaimana pandangan Anda terkait hal tersebut?

Untuk kategori pasar modal Indonesia masuk ke dalam kategori weak form efficient capital market. Jadi, dapat dikatakan bahwa saham-saham bagus yang fundamentalnya kuat kadang-kadang harganya bisa stagnan, tetapi saham yang fundamentalnya jelek nilainya bisa naik. Bagi kita seorang investor yang punya tujuan investasi jangka panjang tidak perlu pusing dengan hal itu, karena kita akan menahan saham tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama.

Maka dari itu, kita bisa menggunakan cara dollar cost averaging. Simpelnya, cara ini bekerja seperti cicilan bulanan, misalnya kita sisipkan uang Rp500 ribu per bulan maka setiap bulannya Rp500 ribu itu kita cicil terus, mau harga sahamnya naik atau turun, tidak apa-apa kita beli terus. Karena kembali lagi tujuan kita adalah investasi jangka panjang. Tentunya kita harus investasi di saham yang fundamentalnya kuat.

Bila tidak mengerti cara baca laporan keuangan atau valuasi perusahaan, ada cara mudahnya. Kita pasti menyimpan uang di bank. Rekeningnya pun berbeda-beda, ada di bank Mandiri, BRI, atau BCA. Kenapa kita simpan di bank tersebut? Karena kita percaya dengan bank itu untuk menyimpan uang kita. Karena kita percaya bank tersebut, kita beli sekalian saham banknya sesuai dengan bank yang kamu gunakan untuk menyimpan uang. Mungkin selanjutnya kita bisa melihat history bank tersebut dalam timeframe selama 10 tahun.

FOMO trading terkadang membuat kita nekad menggunakan transaksi marjin, adakah tips untuk menghindari hal tersebut?

Sebenarnya setiap orang pasti pernah mengalami FOMO. Tapi kita perlu ingat setiap keputusan yang kita ambil dalam kehidupan ini, pasti ada yang namanya risiko dan reward-nya. Untuk itu, kita harus perhitungkan risikonya dulu, karena kalau reward pasti semua orang sudah pasti senang. Tetapi orang suka lupa akan risiko yang dihadapi, karena hanya ingin reward-nya saja.

Nah, yang paling penting supaya tidak FOMO, kita harus mempertimbangkan risiko dan reward yang akan kita dapati. Kita harus tahu reward-nya lebih besar daripada risikonya. Jangan kita korbankan uang Rp100 juta untuk mendapat profit sebesar Rp1 juta saja. Jangan sampai kita korbankan waktu 100 atau 200 jam untuk mendapat keuntungan yang sangat kecil. Jadi saat ingin mengambil keputusan, kita harus paham risiko dan reward-nya.

Adakah pesan yang ingin disampaikan kepada teman-teman semua?

Teman-teman, satu pesan untuk kalian semua. Satu hal kita perlu tahu sebenarnya tujuan di ujung kehidupan kita adalah kebahagiaan. Jadi, kita investasi saham bukan untuk pamer, bukan untuk adu cuan atau adu kepintaran, tetapi tujuan utamanya adalah sebagai investasi di masa tua agar kita bisa lebih bahagia.

Jadi, kalian tidak perlu iri dengan cuan orang lain dan tidak perlu kalian compare juga dengan orang lain, yang terpenting adalah terus belajar, terus investasi leher ke atas karena ketika kalian belajar, kalian akan mendapat skill. Skill itulah yang akan membawa kesuksesan.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini