Sekali Lagi Ditegaskan, Iran Itu Kebal Sabotase dan Sanksi, Apalagi Cuma Negosiasi!

Sekali Lagi Ditegaskan, Iran Itu Kebal Sabotase dan Sanksi, Apalagi Cuma Negosiasi! Kredit Foto: Reuters/WANA/Nazanin Tabatabaee

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan sanksi dan upaya sabotase tidak akan menciptakan peluang negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) mengenai kesepakatan nuklir, tapi membuat masalah jadi lebih rumit.

“Pernyataan itu muncul dalam pertemuan antara Zarif dan Menlu Rusia Sergey Lavrov di ibu kota Teheran, kemarin, sebagai tanggapan atas serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz,” ungkap laporan televisi pemerintah Iran.

Baca Juga: Beda dari AS dan Israel! Rusia Terang-terangan Dukung Iran Kembangkan Nuklir, Alasannya...

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas masalah regional dan internasional, termasuk perjanjian kerja sama jangka panjang antara Teheran dan Moskow, kesepakatan nuklir, dan sanksi yang diberlakukan terhadap Teheran.

"Amerika Serikat harus tahu bahwa sanksi dan tindakan sabotase tidak akan memberikan kesempatan untuk negosiasi. Tindakan ini hanya akan memperumit masalah bagi mereka," ungkap Zarif.

Dia menyatakan fasilitas nuklir Natanz akan segera menggunakan sentrifugal yang lebih canggih daripada yang rusak dalam serangan akhir pekan ini.

“Dengan melancarkan serangan itu, Tel Aviv berpikir bahwa itu akan melemahkan posisi Iran dalam negosiasi nuklir. Serangan itu akan membuat Iran semakin kuat,” tutur Zarif.

Menlu Iran juga memperbarui seruannya kepada pemerintah AS untuk mencabut sanksi sepihak yang diterapkan pada negaranya dan kembali ke kesepakatan nuklir 2015.

Dia mengisyaratkan Teheran akan memasukkan pejabat Eropa dalam daftar sanksinya sebagai tanggapan atas keputusan Uni Eropa (UE) menjatuhkan sanksi kepada pejabat Iran.

"Eropa tidak dalam posisi unggul secara moral dan tidak dapat menceramahi dunia dalam hal ini. Xenofobia dan Islamofobia telah menciptakan kondisi yang mengerikan di Eropa," tegas dia.

Zarif berterima kasih kepada Rusia atas dukungan yang diberikannya setelah pemboman yang terjadi pada Minggu subuh di fasilitas nuklir Natanz.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini