Calling Putin, Biden Ajak Rusia Normalkan Kembali Hubungan

Calling Putin, Biden Ajak Rusia Normalkan Kembali Hubungan Kredit Foto: AP Photo

Istana Kremlin mengatakan, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden melakukan perbincangan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin melalui panggilan telepon pada Selasa (13/4/2021). Biden ingin menormalkan hubungan bilateral dan bekerja sama dalam pengendalian senjata, program nuklir Iran, Afghanistan, dan perubahan iklim.

Menurut Kremlin, Biden menegaskan bahwa telah mengusulkan pertemuan tingkat tinggi dengan Putin. Namun, pemerintah Putin tidak merincikan tanggapan yang diberikan atas permintaan tersebut. Kremlin hanya menjelaskan, seruan itu terjadi atas inisiatif Washington dan Putin telah menjelaskan pandangannya tentang Ukraina timur.

Baca Juga: Perhatian! Putin Teken Undang-Undang yang Langgengkan Kekuasaannya hingga 2036

Sementara Gedung Putih menyatakan,  Biden mengusulkan pertemuan puncak dengan Putin dalam panggilan telepon itu.

"Presiden Biden menegaskan kembali tujuannya untuk membangun hubungan yang stabil dan dapat diprediksi dengan Rusia sesuai dengan kepentingan AS, dan mengusulkan pertemuan puncak di negara ketiga dalam beberapa bulan mendatang untuk membahas berbagai masalah yang dihadapi Amerika Serikat dan Rusia," kata Gedung Putih.

Gedung Putih menyatakan, Biden menegaskan komitmen AS untuk integritas teritorial Ukraina dan menyuarakan keprihatinan tentang penambahan militer Rusia.

"Presiden Biden juga menjelaskan bahwa AS akan bertindak tegas dalam membela kepentingan nasionalnya dalam menanggapi tindakan Rusia, seperti gangguan dunia maya dan campur tangan pemilu," katanya.

Menurut Gedung Putih, Biden menekankan komitmen teguh terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Ukraina.

"Presiden menyuarakan keprihatinan kami atas peningkatan militer Rusia yang tiba-tiba di Krimea yang diduduki dan di perbatasan Ukraina, dan meminta Rusia untuk mengurangi ketegangan," ujarnya

Percakapan itu menjadi yang kedua antara kedua pemimpin negara sejak Biden menjabat presiden pada 20 Januari. Komunikasi ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran AS dan Eropa tentang perlakuan Rusia terhadap Ukraina.

Para pejabat Barat mengatakan, Rusia telah memindahkan ribuan pasukan siap tempur ke perbatasan Ukraina tahun ini, jumlah terbesar pasukan Rusia sejak merebut Krimea dari Ukraina pada 2014. Pertempuran telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir di timur Ukraina.

Lihat Sumber Artikel di Republika Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Republika. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Republika.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini