Sejalan dengan Pemerintah, Industri Sawit Prioritaskan 3 Aspek Vital

Sejalan dengan Pemerintah, Industri Sawit Prioritaskan 3 Aspek Vital Kredit Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas

Industri kelapa sawit di Indonesia memprioritaskan keseimbangan antara aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Hal ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

"Indonesia juga telah berkomitmen menghadirkan industri kelapa sawit yang berkelanjutan dan berkeadilan, bukan hanya di tingkat nasional, melainkan juga di dunia internasional," tutur Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, seperti dikutip dari situs Kemenko Perekonomian.

Baca Juga: Sandiaga Uno: Malam Batik Sawit Bagian Tidak Terpisahkan Industri Kreatif Batik

Kebijakan terbaru untuk mengakselerasi pembangunan kelapa sawit berkelanjutan adalah melalui Peraturan Presiden (Perpres) No. 44 Tahun 2020 tentang Sistem Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia atau yang biasa dikenal sebagai Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

"Peraturan ini mewajibkan seluruh perusahaan dan pekebun sawit di Indonesia untuk mendapatkan sertifikasi ISPO, sebagai jaminan bahwa praktik produksi yang dijalankannya telah mengikuti prinsip dan kaidah keberlanjutan," kata Menko Airlangga.

Produk minyak sawit dan turunannya telah dimanfaatkan oleh berbagai sektor industri, mulai dari industri makanan, kecantikan, farmasi, hingga energi. Saat ini, luasan perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 16,3 juta hektare dengan melibatkan lebih dari 16 juta tenaga kerja dan menghasilkan produksi minyak sawit lebih dari 50 juta ton pada 2020.

Sebagai informasi, Indonesia merupakan negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia yang memiliki peran penting dalam memasok dan memenuhi permintaan minyak nabati di tingkat global. Meskipun pada tahun 2020 Indonesia dan negara-negara di dunia dilanda pandemi Covid-19, nilai ekspor minyak kelapa sawit dan produk turunannya tetap menunjukkan angka positif di kisaran US$22,97 miliar atau tumbuh sebesar 13,6 persen dibandingkan tahun 2019. Hal ini menunjukkan bahwa kelapa sawit berkontribusi signifikan terhadap produk kelapa sawit terhadap devisa negara.

Perlu diketahui, harga referensi untuk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada periode April 2021 cukup tinggi, yaitu sebesar US$1.093,83 per ton. Sementara, Bea Keluar yang dikenakan untuk ekspor CPO sebesar US$116 per ton. Hal tersebut akan berdampak positif pada penerimaan negara serta peningkatan kesejahteraan pekebun kelapa sawit di tingkat tapak yang diterima dalam bentuk harga Tandan Buah Segar.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini