Nasib Perusahaan Milik Raja Mal Kokas & Gancit Alexander Tedja: Omzet & Cuan Anjlok Parah

Nasib Perusahaan Milik Raja Mal Kokas & Gancit Alexander Tedja: Omzet & Cuan Anjlok Parah Kredit Foto: Indonesiatatler.com

Geliat bisnis perusahaan milik konglomerat Alexander Tedja, yakni PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) masih tertekan hingga penghujung tahun 2020. Hal tersebut tercermin dari pendapatan dan laba bersih Pakuwon Jati yang amblas hingga triliunan rupiah pada tahun 2020.

Merujuk ke laporan keuangan perusahaan, Pakuwon Jati mencetak laba bersih sebesar Rp929,92 miliar sepanjang tahun 2020. Capaian tersebut menurun drastis hingga 65,81% jika dibandingkan laba bersih Pakuwon Jati pada 2019 lalu yang mencapai Rp2,72 triliun. Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, 12 April 2021: Remuk Dihajar Banyak Mata Uang!

Keuntungan yang merosot tajam tersebut sejalan dengan pendapatan pengelola Mal Kota Kasablanka dan Gandaria City ini yang turun 44,72% dari Rp7,20 triliun per Desember 2019 menjadi Rp3,98 triliun per Desember 2020. Sewa ruangan dan apartemen servis menyumbang sebesar Rp1,09 triliun terhadap pendapatan Pakuwon Jati pada tahun 2020. Nilai tersebut lebih rendah dari kontribusi tahun 2019 lalu yang menembus Rp1,75 triliun. Baca Juga: Hanya Dalam Tiga Bulan, Perusahaan Pengembang Milik Sinar Mas Group Raup Ratusan Miliar Rupiah!

Sementara itu, Pakuwon Jati mengantongi pendapatan sebesar Rp527,88 miliar dari jasa pemeliharaan; Rp1,19 triliun dari penjualan kondominium dan kantor; Rp235,61 miliar dari pendapatan hotel; Rp486,44 miliar dari penjualan tanah dan bangunan; serta Rp444,18 miliar dari pendapatan usaha lainnya sepanjang tahun 2020. 

Sebagian besar sumber pendapatan tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2019, kecuali pendapatan dari penjualan tanah dan bangunan yang meningkat tipis dari Rp466,05 pada 2019 lalu.

Sejumlah faktor memengaruhi turunnya kinerja laba Pakuwon Jati pada tahun 2020 lalu. Beban keuangan mengalami lonjakan dari Rp227,53 miliar pada 2019 menjadi Rp294,86 miliar pada 2020. Kemudian, laba kurs mata uang asing yang tahun lalu dikantongi Pakuwon Jati sebesar Rp130,12 miliar pada 2019 lalu justru berbalik menjadi rugi sebesar Rp55,97 miliar pada 2020. Begitu pula dengan keuntungan instrumen keuangan derivatif yang sebesar Rp25,45 miliar pada 2019 menjadi rugi sebesar Rp25,71 miliar pada 2020.

Meskipun begitu, Pakuwon Jati berhasil menekan beban penjualan dari awalnya Rp222,06 miliar pada 2019 menjadi Rp131,41 miliar pada 2020. Beban umum dan administrasi secara tahunan juga membaik, yakni dari Rp384,77 miliar menjadi Rp308,85 miliar. Beban pajak final pun angkanya mmebaik dari Rp390,24 miliar menjadi Rp240,98 miliar. Bahkan, rugi entitas asosiasi yang tahun lalu menembus Rp14,56 miliar, kini dipangkas menjadi Rp3,23 miliar.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini