Calon Bos Kadin Pun, Menghadap ke Gibran

Calon Bos Kadin Pun, Menghadap ke Gibran Kredit Foto: WE

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka benar-benar menjadi “magnet”. Banyak elite di negeri ini ramai-ramai merapat ke putra sulung Presiden Jokowi tersebut. Mulai dari menteri, ketua umum parpol, bos BUMN, hingga yang teranyar, calon Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie. 

Anindya tiba di Balai Kota Solo pukul 09.30 WIB. Putra Aburizal Bakrie itu datang didampingi Ketua Kadin Solo Gareng S Haryanto. Gibran menyambut mereka dengan hangat. Mereka kemudian menuju ruang kerja Gibran. 

Pertemuan Anindya dan Gibran yang digelar tertutup itu, berlangsung sekitar 1,5 jam. Mereka keluar dari ruang pertemuan sekitar pukul 11.00 WIB. Lalu mereka menemui awak media, yang telah menunggu di Lobi Kantor Wali Kota.

Kepada wartawan, Anindya mengaku membahas berbagai hal. Namun, dia membantah kedatangannya itu untuk mencari dukungan sebagai calon Ketua Umum Kadin. "Selain mau ketemu teman, sekalian minta ditraktir," kelakarnya. 

Wakil Ketua Umum Kadin ini menyebut, salah satu pertemuan ini membahas rencana pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Anindya melihat, Gibran mempunyai niat untuk membesarkan pendidikan vokasi. "Pak Wali punya niat membesarkan SMK atau vocational studies untuk bisa menjadi satu percontohan untuk kota/kabupaten, bahkan provinsi lain,” kata kakak ipar Nia Ramadhani itu. 

Dia mengusulkan, agar salah satu SMK di Solo memiliki center of competent untuk electric vehicle. Dengan begitu, ke depan, pengembangan industri di Solo akan tersokong sumber daya manusia (SDM) mumpuni dari lulusan SMK. "Kebetulan di grup kami atau Kadin percaya akan ini semua, baik vocational studies maupun kendaraan berlistrik," ungkapnya. 

Gibran mengamini. Menurutnya, SMK harus bisa menjawab kebutuhan industri di masa depan. Salah satunya, kendaraan listrik yang memiliki potensi industri besar. "Jangan sampai lulusan SMK hanya jadi pengangguran. Mereka harus dipastikan setelah lulus bisa bekerja," ucapnya.

Mengapa Anindya harus merapat ke Gibran? Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Firman Noor menyebut, hal itu dilakukan sebagai jembatan untuk merapat ke Jokowi.

Namun, Firman sangsi pertemuan itu efektif mendongkrak Anindya. Firman melihat, dampaknya kecil. "Impaknya ke politik nasional nggak besar. Hanya pertemuan dengan kualitas yang biasa-biasa saja," ucapnya, kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Tanggapan berbeda disampaikan Direktur Political and Public Studies (P3S) Jerry Massie. Menurutnya, pertemuan ini bisa berdampak positif bagi Anindya. "Bisa saja Anindya meminta dukungan Gibran. Paling tidak bisa berpengaruh pada Jokowi (untuk mendukung Anindya)," tekannya. [UMM]

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini