Ketar-ketir Muncul Lagi, Ketakutan AS Gabung Kembali dengan Perjanjian Open Skies Terkuak

Ketar-ketir Muncul Lagi, Ketakutan AS Gabung Kembali dengan Perjanjian Open Skies Terkuak Kredit Foto: Antara/REUTERS/Kevin Lamarque

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dengan cepat memperbarui Perjanjian Baru Pengurangan Senjata Strategi (New START) setelah menjabat.

Namun ia tidak berbuat banyak untuk membatalkan kebijakan pemerinatahan sebelumnya yang menarik AS dari sejumlah perjanjian senjata internasional, meskipun menentangnya saat tindakan tersebut terjadi saat itu.

Baca Juga: Pamer Pelontar Api TOS-2 Tosochka, Kemampuan Senjata Rusia yang Ini Perlu Diwaspadai

Salah satunya adalah perjanjian Open Skies. Sementara Partai Demokrat menyebut penarikan AS dari perjanjian itu oleh mantan Presiden Donald Trump sebagai tindakan ilegal, pemerintah Biden secara pribadi mengatakan kepada sekutunya bahwa kembali ke perjanjian itu akan memberi "pesan yang salah" kepada Rusia.

Hal itu terungkap dari sebuah memo yang bocor dan diperoleh Defense News.

"(Pemerintahan Biden) terus terang prihatin bahwa menyetujui untuk bergabung kembali dengan perjanjian yang terus dilanggar Rusia akan mengirimkan pesan yang salah ke Rusia dan merusak posisi kami dalam agenda pengendalian senjata yang lebih luas," bunyi pesan tertanggal 31 Maret kepada "mitra internasional" itu.

“Meskipun kami mengakui bahwa pelanggaran Open Skies Rusia tidak sama besarnya dengan pelanggaran materialnya terhadap Perjanjian INF, itu adalah bagian dari pola pengabaian Rusia terhadap komitmen internasional - dalam pengendalian senjata dan seterusnya - yang menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan Rusia untuk berpartisipasi secara kooperatif dalam rezim membangun kepercayaan,” lanjut memo itu seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (8/4/2021).

Perjanjian Angkatan Nuklir Jarak Menengah (INF) dan Perjanjian Open Skies (OST) adalah dua perjanjian yang ditandatangani AS dengan Rusia yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan antara kedua negara, khususnya di Eropa Timur.

Ini terjadi setelah ketegangan pada 1980-an menciptakan kondisi di mana serangan terhadap Moskow oleh NATO dapat terjadi begitu cepat sehingga meninggalkan pasukan Pakta Warsawa tanpa waktu yang cukup untuk mengevaluasi ancaman, sehingga kemungkinan kesalahan atau pembacaan yang salah dapat berubah menjadi perang all out.

Selanjutnya
Halaman

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini