Potensi Ekonomi Lidi dan Pelepah Sawit di Riau Mulai Dilirik

Potensi Ekonomi Lidi dan Pelepah Sawit di Riau Mulai Dilirik Kredit Foto: Antara/Wahdi Septiawan

Potensi pelepah dan lidi kelapa sawit sebagai industri baru di Provinsi Riau mulai dilirik. Apalagi di Bumi Lancang Kuning memiliki kebun sawit terluas nasional. Selama ini peluang pemanfaatan pelepah dan lidi sawit dibiarkan begitu saja. Padahal luas kebun sawit mencapai 4,02 juta hektare.

"Di tempat lain, lidi kelapa sawit sudah punya nilai ekonomi dan bahkan diekspor. Lantas kulit pelepah kelapa juga sudah bernilai ekonomi. Kenapa yang semacam ini di Riau tidak bisa kita jadikan bernilai ekonomi. Ini yang menjadi awal pemikiran itu," kata Ketua Umum Pengurus Wilayah Jaringan Pengusaha Nasional (JapNas) Riau, Arif Eka Saputra dikutip Sabtu (27/3/2021).

Baca Juga: Bukan Sawit, Ini Top-5 Komoditas Driver Deforestasi Dunia

Sementara itu Ketua Harian PW JapNas Riau, Viktor Yonathan mengkalkulasi, jika 3 juta hektare dari luasan sawit yang ada di Riau sudah berproduksi dengan umur di atas 8 tahun, maka potensi pelepah setiap 6 bulan yang bisa dimanfaatkan oleh industri mencapai 1,1 miliar batang pelepah.

"Misal setiap enam bulan dari satu batang kelapa sawit itu dibuang tiga pelepah dan satu batang pelepah itu menghasilkan 1 kilogram lidi, maka lidi yang bisa dimanfaatkan sudah 1 juta ton lebih," imbuhnya.

Saat ini kata Viktor, memang sudah ada yang memanfaatkan lidi sawit ini menjadi uang. "Di Kabupaten Indragiri Hulu sudah ada yang mengusahai ini. Dari dua perusahaan pengepul bisa mendapatkan 17 ton lidi. Harga belinya Rp2 ribu per kilogram. Lidi itu dikirim ke Pakistan," beber Viktor.

Sedangkan untuk pemanfaatan pelepah sawit, kulitnya dijadikan bahan kerajinan mebel. "Dengan proses pengeringan dan pembersihan, kulit pelepah ini akan kelihatan teksturnya yang bagus. Sebenarnya, pohon kelapa sawit juga sangat bisa untuk jadi mebel," tandasnya.

Ketua Umum JapNas, Bayu Priawan Djokosoetono mengatakan, saat ini dunia usaha harus eksis dan bertahan di masa pandemi COVID-19. "JapNas ini kan rumahnya semua kalangan pengusaha, termasuk pengusaha UMKM. Saat ini yang kita butuhkan adalah kreatif dan inovatif dari pelaku usaha. Dengan melirik dan menghasilkan sektor usaha baru, berarti JapNas telah memberi warna yang berbeda dan menarik bagi dunia usaha," tuturnya.

Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution berharap agar Japnas bisa bekerjama dengan organisasi lain agar bisa memajukan perekonomian di Riau. "Jadikan momentum ini untuk memajukan pertumbuhan ekonomi Riau. Jangan lupa juga Japnas harus mendukungan program vaksinasi," ujarnya.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini