Akselerasi Pengembangan Energi Bersih Perlu Dipacu

Akselerasi Pengembangan Energi Bersih Perlu Dipacu Kredit Foto: Boyke P. Siregar

Perkembangan energi bersih terus dikejar untuk mencapai target yang diharapkan. Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM, Chrisnawan Anditya mengatakan, pemerintah terus melakukan evaluasi sejak 2012 hingga 2019  yang hasilnya terdapat pertumbuhan Energi Baru Terbarukan (EBT). Namun, percepatan EBT masih kurang meyakinkan.

“Ya antara realisasi dengan target belum bisa matching karena menurut RPNJM (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) di tahun 2015 sampai 2019 itu percepatan EBT-nya meningkat, namun antara energi terbarukan itu lebih kecil dibanding pembangkit tenaga batu bara,” jelasnya saat webinar Katadata yang bertajuk ‘Opportunities and Challenging’ pada Selasa (9/3/2021).

Baca Juga: PLTMG Sorong 50 MW Menjadi Pionir dalam Program Gasifikasi Kementerian ESDM

Selain itu, tantangan yang dihadapi adalah investasi. Jika energi terbarukan ini ingin berkembang pesat di Indonesia maka diperlukan incumbent utility atau utilitas milik investor. Ini dilakukan untuk memperkuat sistem jaringan transmisi dan distribusi. Dana yang dibutuhkan untuk kemajuan energi terbarukan memakan biaya sebesar US$167 miliar.

“Ini tidak saja tugas kementerian ESDM di Bappenas tapi tugas semua stakeholder, energi terbarukan. Tanpa integrasi harmonisasi hanya di sektor energi, industri transportasi, dan lain-lain, tanpa ada satu perencanaan yg terintegrasi, tidak bisa mempercepat pelaksanaan akselerasi pemanfaatan energi baru terbarukan,” jelasnya.

Chrisnawan mengatakan pengembangan EBT pada 2025 akan mencapai 23% sementara sampai akhir 2020 ini target yang didapat berada di angka 11,20%. Menurutnya, angka tersebut masih jauh untuk mencapai target di 2025.

“Namun 5 sampai 6 tahun kedepan peningkatannya sudah menurun artinya kita sudah menerapkan EBT bersih seperti yang diharapkan kedepannya, jadi masih bisa lebih berkembang,” jelasnya.

Ia mengakui, Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar. Namun utilities atau daya guna yang masih kecil yaitu 2,5% tetapi penelitian masih terus berjalan untuk potensi yang bisa dikembangkan kedepannya.

“Saat ini transisi Indonesia dalam penggunaan energi berbasis EBT masih kita dorong dengan memenuhi demand, fokusnya di PLTS,” pungkasnya.

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini