Gaungkan Benci Produk Asing, Ternyata Ini Persoalan Produk Lokal Kurang Diminati

Gaungkan Benci Produk Asing, Ternyata Ini Persoalan Produk Lokal Kurang Diminati Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Pekan lalu, Indonesia dihebohkan oleh pernyataan Presiden Joko Widodo terkait benci produk asing dalam pembukaan rapat kerja nasional Kementerian Perdagangan Kamis (4/3/2021). Seruan yang juga untuk dukung produk lokaltersebut sontak mendapat respons beragam dari masyarakat.

Untuk diketahui, seruan presiden keluar setelah mendapatkan laporan terkait adanya e-commerce yang menjual produk barang lintas negara (barang impor) dengan praktik predatory pricing yang membunuh UMKM di Indonesia.

Baca Juga: Jokowi Gaungkan Benci Produk Asing, Emang Indonesia Bisa Ngelawan Kalau Kalau AS dan China Ngambek

Tetapi, kenapa permintaan terhadap produk impor melalui e-commerce cukup tinggi? Menurut Chairman Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi, salah satu alasan utama masyarakat memilih produk asing adalah pertimbangan harga. Dengan kualitas yang sama atau bahkan lebih baik, sejumlah produk asing lebih murah dari pada produk lokal.

"Daya saing produk lokal rendah terutama karena masalah logistik dan rantai pasok. Masalah logistik pelaku UMKM terjadi pada tahapan pengadaan dan penyimpanan bahan baku, serta distribusi produk jadi," kata dia.

Permasalahan itu, ujar Setijadi, terkait skala ekonomi. Skala produksi yang kecil mengakibatkan volume pengadaan bahan baku dan pengiriman produk jadi juga kecil, sehingga biaya lebih mahal dan menurunkan daya saing.

Berbeda dengan produk asing. Mereka memproduksi dalam skala besar dan efisien dalam rantai pasok. Sehingga harga jual produk bisa ditekan. Sementara kualitas cukup bagus.

Sehingga, kata dia, Para pelaku di suatu sentra UMKM perlu berkolaborasi. Selain itu, penyedia jasa logistik perlu berperan menjadi konsolidator untuk meningkatkan skala ekonomi dan mengefisienkan proses penanganan logistiknya.

"Rantai pasok beberapa komoditas yang panjang harus diperpendek. Selain itu, perlu pengendalian untuk mencegah aksi pelaku tertentu dalam rantai pasok yang mengambil keuntungan secara tidak proporsional," tegas dia.

Pembenahan rantai pasok harus secara end-to-end karena daya saing ditentukan oleh efisiensi seluruh pelaku dalam rantai pasok. Pelaku UMKM produsen makanan, misalnya, bisa terkendala mendapatkan bahan baku murah karena tingkat kerusakan komoditasnya yang tinggi sepanjang tahapan rantai pasok.

SCI memperkirakan food losses & waste untuk buah dan sayuran di Indonesia pada tahapan pasca panen sekitar 10% dan distribusi sekitar 7,5%. Secara keseluruhan food losses & waste bisa mencapai 50% yang sebagian besar terjadi pada tahap produksi dan pengolahan. Food losses dan waste itu akan diperhitungkan sebagai biaya sehingga menurunkan daya saing produk.

Lihat Sumber Artikel di SINDOnews Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan SINDOnews. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab SINDOnews.

Berita Terkait

Terpopuler

Terkini