Tesla Lirik Negeri Bollywood, Tenang! Banyak Investor Masih Antre Pinang RI

Tesla Lirik Negeri Bollywood, Tenang! Banyak Investor Masih Antre Pinang RI Kredit Foto: Instagram/Luhut Binsar Pandjaitan

Mamit meyakini, kemungkinan Tesla tertarik berinvestasi di Indonesia masih sangat ter­buka lebar. Karena jika merujuk pernyataan Menteri Luhut, kerja sama dengan Indonesia dengan Tesla lebih kepada penyediaan bahan baku baterainya.

 

“Pemerintah juga bilang masih bernegosiasi dengan Tesla. Na­mun menurut saya, Tesla bukan satu-satunya investor potensial yang berinvestasi di Indonesia. Karena, sudah ada juga beberapa investor asing yang berminat,” kata Mamit.

Intinya, kata Mamit, dengan siapa pun nanti investor asing yang bekerja sama dengan In­donesia, harus menguntungkan kedua belah pihak, baik itu dari sisi Sumber Daya Alam (SDA), pasar, maupun Sumber Daya Manusia (SDM).

Baca Juga: Opung Luhut Pantang Menyerah, Nego Tesla untuk 6 Sektor Ini

“Apalagi Indonesia saat ini menjadi target utama pengem­bangan EV bagi negara-negara luar, masih seksi. Jadi nanti bisa siapa saja yang investasi di sini as soon as possible,” tuturnya.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir juga menepis kabar Tesla ingin membangun pabrik di Indonesia. Menurutnya, Tesla tertarik berinvestasi di bidang Energy Stor­age System (ESS), bukan mem­bangun pabrik mobil seperti yang sering diberitakan selama ini.

“Kami terus mengadakan pembicaraan dengan beberapa perusahaan besar lainnya dari Jepang, Amerika termasuk yang sering dibicarakan di publik yaitu Tesla,” ujar Erick dalam gelaran virtual The Indonesia 2021 Summit, The Future is Now, Leading in The Era of Disruptions, Selasa (23/2).

Dengan alasan tersebut, pa­parnya, Kementerian BUMN akhirnya membentuk konsor­sium besar yang terdiri atas PT Pertamina, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), PT Indonesia Aluminium (Persero) atau hold­ing BUMN Tambang, serta PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM).

BUMN-BUMN tersebut akan mengurusi aktivitas pengem­bangan baterai EV dari hulu hingga ke hilir, dari penambangan hingga berbentuk baterai dan distribusinya di dalam dan luar negeri.

Erick menargetkan melalui kerja sama dengan berbagai perusahaan multinasional yang saat ini sudah ada komitmen, yakni China Contemporary Am­perex Technology (CATL) asal China dan LG Chem asal Korea Selatan. Indonesia dapat mem­produksi baterai EV pada 2023.

Untuk diketahui, Indonesia memiliki cadangan nikel terbe­sar di dunia. Di mana nikel ada­lah salah satu bahan baku penting dalam baterai mobil listrik. Inilah yang membuat Indonesia menjadi negara tujuan investor asing yang ingin mengembang­kan industri baterai.

Tampilkan Semua
Halaman

Lihat Sumber Artikel di Rakyat Merdeka Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Warta Ekonomi dengan Rakyat Merdeka. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Rakyat Merdeka.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini