Tangkal Gejolak Hoax dan Menengok Teori Representasi Media Massa

Tangkal Gejolak Hoax dan Menengok Teori Representasi Media Massa Kredit Foto: Sufri Yuliardi

Pendapat Hall ini nyaris satu nada dengan filsuf dan bahasawan Noam Chomsky. Menurut Chomsky, representasi media massa dapat membentuk opini dan persepsi publik tentang suatu soal. Kemenangan dalam Perang Teluk I, yaitu antara Amerika Serikat versus Irak, bukan lahir karena kemenangan tentara semata, namun kemenangan media massa milik AS, turut mempercepat kekalahan Irak. Televisi Aljazera, CNN, BBC, dan media-media sekutu AS, telah memprovokasi bangsa-bangsa untuk ikut menghakimi, bahwa Irak dan Sadam Huseinnya adalah penjahat kemanusiaan, yang akan membunuh manusia sebanyak-banyaknya dengan senjata kimia. Nah, Irak memiliki senjata kimia itu ternyata kebohongan (hoax) yang dilakukan industri media massa sekutu AS, dan dampak dari hoax-nya, telah menggulingkan seorang kepala negara yang syah menurut kontitusi negaranya. Hingga akhir hayat Sadam, yang mati dengan cara digantung, tidak pernah terbuktikan bahwa Irak memiliki senjata kimia pembunuh massal.

Hoax memang diproduksi, sedari dulu hingga kapanpun. Sekian hadits Nabi, menurut para alim ulama, telah diproduksi di era Snouck Hurgronje secara hoax, kemudian disebarluaskan guna mengacaukan persepsi masyarakat Nusatara terutama Aceh, sehingga kawasan Aceh yang liat untuk ditaklukan oleh VOC, akhirnya dapat dijatuhkan melalui hadits palsu, serta berita-berita hoax lainnya.

Nah, karena itu, hoax harus ditangkal, dan teknik menangkal hoax harus diajarkan secara masal oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Informasi dan Komunikasi. Dua lembaga kementerian ini, semestinya mengajarkan ilmu jurnalistik ke seluruh lapisan masyarakat. Urat nadi jurnalistik tidak berubah, sedari jaman Aristoteles memetakannya, hingga kapapun, yaitu bahwa jurnalistik itu akan mempertanyakan sesuatu dengan mengajukan pertanyaan 5WH (apa, kapan, di mana, kenapa, siapa, dan bagaimana?)

Disebabkan ilmu jurnalistik tidak pernah diajarkan, maka berita hoax menjadi begitu mudah menyebar, terutama di masyarakat yang dangkal nalar serta sedang teriming-imingi oleh impian. Impian manusia kebanyakan cenderung sama, yaitu persoalan tiga ‘ta’ (harta, tahta, wanita (libido). Di tengah masyarakat yang dangkal nalar dan terpuruk secara ekonomi, maka hoax bagi-bagi rezeki serta investasi dengan hasil yang berlipat ganda, begitu mudah menyebar karena diteruskan dari lengan satu ke lengan linnya dengan begitu mudah dan cepat. Berita bombastis apalagi yang bernada saru, kini mudah pula menyebar.

Di tengah kondisi seperti sekarang ini, sekali lagi, Kemendikbud dan Kemeninfo wajib mengajarkan ilmu jurnalistik atau literasi digital, agar representasi yang muncul dalam sosial media, yang bermaksud untuk penipuan, pencarian keuntangan sesaat, kampanye hitam (ugotisasi) atau kampanye pencitraan (ogutisasi), setidaknya dapat dikurangi.

Mengutip pernyataan dalam salah satu kuliahnya, Hall menjelaskan bahwa representasi tidak dibentuk setelah suatu fenomena terjadi, melainkan representasi itulah yang memberikan makna kepada fenomena tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa representasi yang dibuat oleh media bukan sebuah refleksi dari kejadian yang memiliki arti tertentu, melainkan merekalah yang membuat artian terhadap objek tersebut. Sering kali suatu bentuk representasi yang dibuat oleh media diperdebatkan tingkat keakuratannya dengan fakta dari realitas kejadian yang digambarkan. Hal tersebut penting dilakukan untuk mengetahui kredibilitas dari suatu media.

Faktanya, Indonesia berada di urutan kedua terbawah dari 61 negara di dunia dalam hal minat baca. Mau sampai kapan? Mulai aja dulu dari #BacaSampaiTuntas

Tampilkan Semua
Halaman

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini